LOGINDeru mesin V8 twin-turbo berkapasitas besar itu kembali mengalun halus, membelah keheningan malam kota Surabaya yang kian larut. Sedan Maserati Quattroporte GTS V8 hitam itu bergerak lincah menembus jalanan protokol, meninggalkan kawasan kumuh kolong jembatan yang kini tinggal bayangan di kaca spion.Di kursi penumpang depan yang dilapisi kulit mewah, Desy duduk merapat. Kedua lengan halusnya merengkuh erat raga kecil Desan yang kurus kering dan masih terlelap dalam gigilan demam tinggi. Desy tak henti-hentinya mengusap dahi panas sang adik, sesekali pula melempar tatapan haru dan tak percaya ke arah Teja yang mengemudi di sampingnya.Teja membawa mobilnya melesat cepat ke arah klinik pengobatan miliknya.Jemari kekar Teja memutar lingkar kemudi dengan tenang. Binar mata keemasannya menatap lurus ke depan, memastikan rute terdekat menuju tempat tujuan mereka.Dulu, bangunan itu adalah rumahnya bersama sang ayah tercinta. Namun, sejak asosiasi bela diri Surabaya dan Sidoarjo menghad
"Sudah sepuluh hari ini adik saya demam tinggi, tapi kami nggak punya biaya buat berobat," bisik Desy dengan suara yang gemetar menahan kesedihan yang teramat sangat.Jemari kurus sang gadis mengelus dahi adiknya yang terasa sangat panas membakar. Bocah laki-laki berbadan kurus kering itu sesekali melenguh kecil dalam lelapnya, napasnya memburu cepat dan memiringkan tubuhnya, semakin meringkuk di atas tikar yang tipis."Makanya tadi saya jalan itu nyari kerjaan, Mas. Mungkin bantu dorong gerobak nasi atau apa gitu. Eh, malah dituduh mencuri," lanjut Desy seraya mengusap air mata yang tak henti-hentinya menetes membasahi pipinya yang kotor."Kalau tas itu… saya nemuin udah dalam keadaan kosong gitu. Beneran saya nggak mencuri, Mas," tegas Desy lagi, memandangi Teja dengan sepasang mata bulat bening yang dipenuhi rasa keputusasaan dan kejujuran.Teja mengangguk pelan, menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan batin sang gadis."Tenang saja, aku percaya sama kamu kok, Des. Lalu oran
"Ibu sudah terima uangnya, kan? Masalah ini selesai di sini dan tidak perlu diperpanjang lagi. Masing-masing silakan membubarkan diri," tegas Teja dengan suara bariton yang berat dan penuh penekanan."Makasih banyak ya, Mas... Aduh, Mas ini baik banget," ucap wanita paruh baya itu dengan senyum merekah lebar. Tanpa memedulikan lagi gadis kumuh di trotoar, ia mengempit tas berisi uang tunai tiga juta rupiah itu rapat-rapat dan segera melangkah cepat meninggalkan lokasi.Melihat pria kaya di hadapan mereka sudah menyelesaikan urusan menggunakan uang tunai tanpa keributan lebih lanjut, dorongan emosi warga seketika surut. Satu per satu juru parkir, pedagang, dan warga sekitar membubarkan diri kembali ke aktivitas masing-masing, membiarkan area trotoar di depan toko kelontong kembali sepi.Gadis muda itu masih terduduk lemas di atas trotoar yang dingin. Napasnya tersengal bercampur isak tangis yang mulai mereda. Ia mengusap pipinya yang kotor dengan lengan bajunya yang robek, menatap
"Kamu membelanya? Kalian komplotan ya?!" sembur tukang parkir garang.Pria bermuka kasar itu mencoba merenggut tangannya kembali, tetapi genggaman jemari Teja sama sekali tidak bergeser sedikit pun. Urat-urat di lengan pemuda berambut gondrong itu mengunci kokoh, memancarkan tekanan fisik yang membuat sang juru parkir mendadak meringis menahan nyeri yang membelit pergelangan tangannya.Sebelum Teja menanggapi, beberapa anak kecil di dekat sana langsung mendekat."Bukan! Om itu orang kaya! Dia turun dari mobil keren itu!" seru seorang bocah penjual koran sembari menunjuk ke arah sedan mewah yang terparkir anggun di tepi jalan.Semua mata menatap Maserati Teja dan langsung melunak.Kerumunan warga yang tadinya disulut amarah serta kehausan akan tindakan main hakim sendiri seketika terdiam kaku. Pandangan benci mereka teralihkan sepenuhnya pada siluet mengkilap sedan Maserati Quattroporte GTS V8 hitam yang memancarkan aura kemewahan kelas atas di bawah pendar lampu jalan. Raut-raut wa
Setelah bercengkrama beberapa saat usai pergumulan indah mereka, Teja pun berpamitan pada Nana untuk pulang.Di dalam kamar tidur utama yang sejuk, Teja merapikan kembali pakaian kasualnya. Nana yang masih dibalut seprai menatap sang kekasih dengan pandangan penuh rasa hangat dan kasih sayang. Usai mendaratkan ciuman mesra di dahi sang penyanyi jelita sebagai perpisahan sementara, Teja melangkah tegap turun ke lantai dasar, lalu melangkah keluar menuju pelataran parkir rumah megah tersebut.Mobil Maserati Quattroporte GTS V8 Teja melaju santai menyusuri aspal malam kota Surabaya.Deru halus mesin V8 twin-turbo berkapasitas besar itu mengalun rendah tatkala sedan mewah berwarna hitam mengkilap itu membelah jalanan protokol yang kian lengang. Lampu-lampu jalanan kota Metropolitan Timur itu membiaskan pendar keemasan di atas kap mobil, memantul tipis pada sepasang mata tajam milik pemuda berambut gondrong di balik lingkar kemudi.Dalam perjalanan itu otak Teja berpikir tentang energi
"Aku sebenarnya juga sudah hampir crot, Na," bisik Teja rendah di dekat telinga sang kekasih, membiarkan napas hangatnya berhembus di ceruk leher Nana.Gejolak energi di dalam tubuh Teja sudah mencapai titik kulminasi. Ritme sirkulasi Murni Qi tingkat tujuh yang bergetar cepat di dalam pembuluh darahnya menandakan bahwa pelepasan besar tinggal menghitung detik.Teja lalu menurunkan Nana. Secara perlahan, ia membimbing tubuh polos penyanyi jelita itu agar turun dari pangkuannya. Kedua kaki Nana yang sintal menyentuh karpet tebal kamar, meski lututnya masih sedikit bergetar lemas akibat dua kali gelombang klimaks beruntun yang baru saja dilaluinya."Pegang sandaran kursi ini yang kencang, Na," instruksi Teja dengan suaranya yang tegas.Nana menuruti arahan tersebut tanpa ragu. Jemari lentiknya mencengkeram erat ukiran kayu pada sandaran kursi tempat mereka duduk sebelumnya. Ia membungkukkan badannya, menumpukan lengannya di atas sandaran kursi, sehingga posisi pinggulnya terangkat an
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan







