ANMELDENBeberapa saat kemudian...Fatih telah kembali ke rumah. Langkahnya berat dan pelan saat melangkah masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang, Laras tampak masih terpejam, seolah belum terbangun dari tidurnya.Tanpa menunda, Fatih segera membersihkan tubuhnya. Setelah kembali berpakaian bersih, ia berbaring perlahan di samping istrinya. Tangannya melingkar erat memeluk tubuh Laras dari belakang, menyandarkan wajahnya di ceruk leher jenjang itu. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Laras yang menenangkan, bercampur wangi sampo yang lembut menguar dari rambut panjangnya.Namun, tanpa Fatih ketahui, di balik matanya yang terpejam, Laras ternyata telah terjaga sejak tadi. Ia menyadari tempat di sampingnya kosong, menyadari kepergian suaminya di tengah malam yang sunyi. Dan kini, saat pelukan hangat itu kembali menyaputnya, air mata perlahan mengalir deras dari sudut matanya.Laras menahan napas agar tak terdengar sesenggukan. Giginya terkatup rapat menahan rasa perih yang menyayat dadanya. Ia
"Tidak!" seru Fatih seketika.Dengan gerakan cepat ia melepaskan cengkeramannya dari leher Nyai, lalu mundur terhuyung beberapa langkah. Kedua tangannya kini mencengkeram kepalanya erat, napasnya tersengal hebat seolah baru saja dihantam kenyataan yang mematikan.Pikirannya seketika teringat momen kebersamaan bersama Nyai yang terus terulang. Ia selalu terbuai dengan kenikmatan, hingga lupa menahan diri, membiarkan benih kehidupannya menyatu sepenuhnya di dalam rahim siluman itu. Dan kini ... benih itu telah tertanam dan mulai tumbuh."Kenapa, Fatih? Apa kamu terkejut?" tanya Nyai lembut.Perlahan, kedua tangannya terulur mengusap perutnya yang kini bersinar lembut, terlihat denyut-denyut kecil kehidupan yang baru saja tumbuh di sana.Pandangan Fatih seketika menajam, matanya menatap tajam ke arah perut itu."Keluarkan benih itu, Nyai! Jangan biarkan ia tumbuh di rahimmu!" perintahnya tegas namun bergetar.Nyai tersenyum lebar, tak sedikit pun takut."Tidak. Ini adalah benihku dan be
Melihat Nyai terdiam membisu, Fatih perlahan membuka matanya. Di dapatinya, Nyai masih menatapnya lekat dengan pandangan yang nanar dan penuh luka."Kenapa?" tanya Fatih pelan. "Apa jawabanku tadi membuatmu tak suka?"Nyai tersentak, lalu secepat kilat mengubah ekspresinya. Ia mengibaskan tangan seolah mengusir segala pikiran kelam yang sempat singgah."Ah, tidak ... lupakan saja pembicaraan itu. Yang penting saat ini, kita masih bisa bersama. Melalui malam purnama yang indah ini dalam kebersamaan yang akan menambah kekuatan dan kecantikanku," bisiknya halus, seraya tangannya kembali mengusap lembut dada bidang Fatih yang masih berkeringat.Memang tak bisa dipungkiri. Penyatuan yang baru saja mereka lakukan di bawah cahaya bulan purnama itu seolah memancarkan kembali pesona kecantikan siluman wanita itu. Wajahnya kian bersinar bercahaya, dan tubuhnya yang seharusnya terasa lelah justru tampak semakin segar dan bugar.Fatih mendengus pelan, merasa sedikit tak seimbang. "Jadi ... hanya
Mendengar pertanyaan Fatih, Nyai tersenyum lebar, matanya berkilat tajam, namun penuh kepemilikan mutlak. Ia mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya beberapa senti."Selamanya, Fatih," jawabnya tegas namun lembut, seolah itu adalah hal yang paling pasti di dunia ini. "Selama kamu masih bernapas, selama darah ini masih mengalir di tubuhmu ... kamu harus memberikanku satu malam setiap bulan. Tak ada batas waktu, tak ada akhir. Kamu adalah milikku, dan aku tak akan pernah melepaskanmu."Fatih mengerutkan kening, rasa tak percaya bercampur amarah mulai merayap di hatinya."Itu tidak adil. Aku sudah menepati janjiku memberikanmu kepuasan dan menyelamatkan nyawamu dari Handaru. Harusnya perjanjian itu selesai sampai di sana."Nyai menggeleng pelan, lalu bibirnya menyentuh telinga Fatih dengan suara berbisik yang memabukkan."Kamu salah mengerti, sayang ... perjanjian itu bukan sekadar tukar-menukar. Kamu adalah milikku yang kutemukan kembali. Dan kenikmatan yang kuberikan padamu, ser
Fatih tampak gelisah dalam tidurnya. Napasnya memburu, sementara keningnya berkerut seolah sedang bergulat dengan mimpi yang tidak menyenangkan."Fatih ... bangun ... cepat temui aku." Tak lama kemudian, kedua matanya perlahan terbuka saat mendengar suara misterius yang terus memanggilnya.Matanya langsung menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.Namun, belum sempat ia mengumpulkan kesadarannya, telinganya menangkap suara yang begitu dikenalnya.Criing ...Criing ...Criing ...Suara lonceng kereta menggema pelan, disusul ringkikan beberapa ekor kuda dari luar rumah.Degh!Jantung Fatih seketika berdegup kencang.Wajahnya langsung berubah tegang.Barulah ia teringat pada janji yang pernah dibuatnya dengan Nyai.Malam bulan purnama.Malam yang diminta Nyai sebagai haknya dalam setiap satu bulan, dengan taruhan keselamatan dan kebebasan Laras dari cengkraman Bu Rosa.Fatih mengembuskan napas panjang.Perlahan ia turun dari ranjang, berhati-hati agar tidak membangunkan Laras y
Kening Fatih langsung berkerut saat melihat mobil itu. Ia sangat mengenalnya.Fatih hafal betul. Bahkan plat nomornya.Degh!Dadanya mendadak berdebar. "Itu ..." gumamnya lirih.Laras yang menyadari perubahan raut wajah suaminya ikut menghentikan langkah."Kang ... kenapa?"Fatih tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada mobil tersebut."Itu mobil Bu Ayunda."Laras ikut menoleh ke arah mobil mewah itu. "Oh ... bos pabrik tekstil itu?" Fatih mengangguk pelan. "Iya." Ia mengembuskan napas panjang.Baru sekarang ia benar-benar menyadari kesalahannya. Sejak memutuskan berhenti bekerja dan membuka usaha bersama Laras, ia pergi begitu saja dari perusahaan.Tanpa menghadap Ayunda. Tanpa memberikan surat pengunduran diri. Tanpa menjelaskan alasan kepergiannya.Bahkan ponselnya sengaja ia matikan selama beberapa hari agar tidak dihubungi siapa pun."Apa ... beliau datang mencarimu?" tanya Laras."Sepertinya begitu." Fatih mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa kaku.Rasa bersa
Gudang di hadapannya tidak gelap seperti ruangan pabrik lainnya. Justru sebaliknya. Puluhan lilin menyala mengelilingi ruangan, sesajen tersusun di atas nampan, sementara aroma kemenyan dan melati memenuhi udara. Di tengah ruangan, beberapa pria berpakaian hitam menabuh gamelan dengan wajah datar.
Fatih tersentak. Alisnya langsung berkerut."Siapa yang mengetuk pintu?" gumamnya dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur.Grep!Tiba-tiba tangan Laras meraih lengan Fatih dengan erat.Fatih menoleh. Kepala Laras menggeleng pelan. Wajahnya yang tadi terlihat tenang kini berubah pucat. Ada
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Fatih mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Ingatan Fatih langsung tertuju pada kejadian tadi malam. Bukankah ia berada di rumah ibu mertuanya? Dan hendak melakukan malam pertama dengan Laras, istri yang ia nikahi tanpa sepengetahuan keluargany
Sedari kecil, Fatih selalu merasa hidupnya sedikit berbeda.Di bahunya terdapat tanda lahir berbentuk bulan sabit. Karena tanda itulah, guru silatnya melatihnya lebih keras daripada siapa pun. Saat anak-anak lain menghabiskan waktu bermain, Fatih menghabiskan harinya mempelajari berbagai jurus dan







