Startseite / Urban / Tumbal Ketujuh Obsesi Sang Nyai / 50. Ancaman di istana gaib

Teilen

50. Ancaman di istana gaib

last update Veröffentlichungsdatum: 05.07.2026 09:45:45
Fatih mengangkat tubuh Nyai dari dalam kolam pemandian tanpa melepaskan penyatuannya.

Nyai terlihat meringis ngilu. Lalu ia segera memeluk Fatih dengan erat.

Air hangat menetes dari rambut dan tubuh mereka, membasahi lantai batu yang mengilap.

Tanpa banyak bicara, Fatih terus membopong Nyai melintasi ruangan menuju sebuah ranjang besar yang berada di balik kelambu putih tipis.

Kelambu itu bergoyang perlahan tertiup embusan angin yang masuk dari celah jendela. Sementara cahaya lilin mem
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Tumbal Ketujuh Obsesi Sang Nyai    100. Kedatangan masa lalu

    Beberapa saat kemudian...Fatih telah kembali ke rumah. Langkahnya berat dan pelan saat melangkah masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang, Laras tampak masih terpejam, seolah belum terbangun dari tidurnya.Tanpa menunda, Fatih segera membersihkan tubuhnya. Setelah kembali berpakaian bersih, ia berbaring perlahan di samping istrinya. Tangannya melingkar erat memeluk tubuh Laras dari belakang, menyandarkan wajahnya di ceruk leher jenjang itu. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Laras yang menenangkan, bercampur wangi sampo yang lembut menguar dari rambut panjangnya.Namun, tanpa Fatih ketahui, di balik matanya yang terpejam, Laras ternyata telah terjaga sejak tadi. Ia menyadari tempat di sampingnya kosong, menyadari kepergian suaminya di tengah malam yang sunyi. Dan kini, saat pelukan hangat itu kembali menyaputnya, air mata perlahan mengalir deras dari sudut matanya.Laras menahan napas agar tak terdengar sesenggukan. Giginya terkatup rapat menahan rasa perih yang menyayat dadanya. Ia

  • Tumbal Ketujuh Obsesi Sang Nyai    99. Nyai mengandung

    "Tidak!" seru Fatih seketika.Dengan gerakan cepat ia melepaskan cengkeramannya dari leher Nyai, lalu mundur terhuyung beberapa langkah. Kedua tangannya kini mencengkeram kepalanya erat, napasnya tersengal hebat seolah baru saja dihantam kenyataan yang mematikan.Pikirannya seketika teringat momen kebersamaan bersama Nyai yang terus terulang. Ia selalu terbuai dengan kenikmatan, hingga lupa menahan diri, membiarkan benih kehidupannya menyatu sepenuhnya di dalam rahim siluman itu. Dan kini ... benih itu telah tertanam dan mulai tumbuh."Kenapa, Fatih? Apa kamu terkejut?" tanya Nyai lembut.Perlahan, kedua tangannya terulur mengusap perutnya yang kini bersinar lembut, terlihat denyut-denyut kecil kehidupan yang baru saja tumbuh di sana.Pandangan Fatih seketika menajam, matanya menatap tajam ke arah perut itu."Keluarkan benih itu, Nyai! Jangan biarkan ia tumbuh di rahimmu!" perintahnya tegas namun bergetar.Nyai tersenyum lebar, tak sedikit pun takut."Tidak. Ini adalah benihku dan be

  • Tumbal Ketujuh Obsesi Sang Nyai    98. Benih cahaya di dalam kegelapan

    Melihat Nyai terdiam membisu, Fatih perlahan membuka matanya. Di dapatinya, Nyai masih menatapnya lekat dengan pandangan yang nanar dan penuh luka."Kenapa?" tanya Fatih pelan. "Apa jawabanku tadi membuatmu tak suka?"Nyai tersentak, lalu secepat kilat mengubah ekspresinya. Ia mengibaskan tangan seolah mengusir segala pikiran kelam yang sempat singgah."Ah, tidak ... lupakan saja pembicaraan itu. Yang penting saat ini, kita masih bisa bersama. Melalui malam purnama yang indah ini dalam kebersamaan yang akan menambah kekuatan dan kecantikanku," bisiknya halus, seraya tangannya kembali mengusap lembut dada bidang Fatih yang masih berkeringat.Memang tak bisa dipungkiri. Penyatuan yang baru saja mereka lakukan di bawah cahaya bulan purnama itu seolah memancarkan kembali pesona kecantikan siluman wanita itu. Wajahnya kian bersinar bercahaya, dan tubuhnya yang seharusnya terasa lelah justru tampak semakin segar dan bugar.Fatih mendengus pelan, merasa sedikit tak seimbang. "Jadi ... hanya

  • Tumbal Ketujuh Obsesi Sang Nyai    97. kembali terjerat kenikmatan sesaat

    Mendengar pertanyaan Fatih, Nyai tersenyum lebar, matanya berkilat tajam, namun penuh kepemilikan mutlak. Ia mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya beberapa senti."Selamanya, Fatih," jawabnya tegas namun lembut, seolah itu adalah hal yang paling pasti di dunia ini. "Selama kamu masih bernapas, selama darah ini masih mengalir di tubuhmu ... kamu harus memberikanku satu malam setiap bulan. Tak ada batas waktu, tak ada akhir. Kamu adalah milikku, dan aku tak akan pernah melepaskanmu."Fatih mengerutkan kening, rasa tak percaya bercampur amarah mulai merayap di hatinya."Itu tidak adil. Aku sudah menepati janjiku memberikanmu kepuasan dan menyelamatkan nyawamu dari Handaru. Harusnya perjanjian itu selesai sampai di sana."Nyai menggeleng pelan, lalu bibirnya menyentuh telinga Fatih dengan suara berbisik yang memabukkan."Kamu salah mengerti, sayang ... perjanjian itu bukan sekadar tukar-menukar. Kamu adalah milikku yang kutemukan kembali. Dan kenikmatan yang kuberikan padamu, ser

  • Tumbal Ketujuh Obsesi Sang Nyai    96. Janji di malam purnama

    Fatih tampak gelisah dalam tidurnya. Napasnya memburu, sementara keningnya berkerut seolah sedang bergulat dengan mimpi yang tidak menyenangkan."Fatih ... bangun ... cepat temui aku." Tak lama kemudian, kedua matanya perlahan terbuka saat mendengar suara misterius yang terus memanggilnya.Matanya langsung menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.Namun, belum sempat ia mengumpulkan kesadarannya, telinganya menangkap suara yang begitu dikenalnya.Criing ...Criing ...Criing ...Suara lonceng kereta menggema pelan, disusul ringkikan beberapa ekor kuda dari luar rumah.Degh!Jantung Fatih seketika berdegup kencang.Wajahnya langsung berubah tegang.Barulah ia teringat pada janji yang pernah dibuatnya dengan Nyai.Malam bulan purnama.Malam yang diminta Nyai sebagai haknya dalam setiap satu bulan, dengan taruhan keselamatan dan kebebasan Laras dari cengkraman Bu Rosa.Fatih mengembuskan napas panjang.Perlahan ia turun dari ranjang, berhati-hati agar tidak membangunkan Laras y

  • Tumbal Ketujuh Obsesi Sang Nyai    95. Kedatangan tamu

    Kening Fatih langsung berkerut saat melihat mobil itu. Ia sangat mengenalnya.Fatih hafal betul. Bahkan plat nomornya.Degh!Dadanya mendadak berdebar. "Itu ..." gumamnya lirih.Laras yang menyadari perubahan raut wajah suaminya ikut menghentikan langkah."Kang ... kenapa?"Fatih tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada mobil tersebut."Itu mobil Bu Ayunda."Laras ikut menoleh ke arah mobil mewah itu. "Oh ... bos pabrik tekstil itu?" Fatih mengangguk pelan. "Iya." Ia mengembuskan napas panjang.Baru sekarang ia benar-benar menyadari kesalahannya. Sejak memutuskan berhenti bekerja dan membuka usaha bersama Laras, ia pergi begitu saja dari perusahaan.Tanpa menghadap Ayunda. Tanpa memberikan surat pengunduran diri. Tanpa menjelaskan alasan kepergiannya.Bahkan ponselnya sengaja ia matikan selama beberapa hari agar tidak dihubungi siapa pun."Apa ... beliau datang mencarimu?" tanya Laras."Sepertinya begitu." Fatih mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa kaku.Rasa bersa

  • Tumbal Ketujuh Obsesi Sang Nyai    4. Godaan Nyai

    Gudang di hadapannya tidak gelap seperti ruangan pabrik lainnya. Justru sebaliknya. Puluhan lilin menyala mengelilingi ruangan, sesajen tersusun di atas nampan, sementara aroma kemenyan dan melati memenuhi udara. Di tengah ruangan, beberapa pria berpakaian hitam menabuh gamelan dengan wajah datar.

  • Tumbal Ketujuh Obsesi Sang Nyai    3. Dunia lain di dalam gudang

    Fatih tersentak. Alisnya langsung berkerut."Siapa yang mengetuk pintu?" gumamnya dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur.Grep!Tiba-tiba tangan Laras meraih lengan Fatih dengan erat.Fatih menoleh. Kepala Laras menggeleng pelan. Wajahnya yang tadi terlihat tenang kini berubah pucat. Ada

  • Tumbal Ketujuh Obsesi Sang Nyai    2. Malam pertama

    Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Fatih mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Ingatan Fatih langsung tertuju pada kejadian tadi malam. Bukankah ia berada di rumah ibu mertuanya? Dan hendak melakukan malam pertama dengan Laras, istri yang ia nikahi tanpa sepengetahuan keluargany

  • Tumbal Ketujuh Obsesi Sang Nyai    1. Kembali dari kematian

    Sedari kecil, Fatih selalu merasa hidupnya sedikit berbeda.Di bahunya terdapat tanda lahir berbentuk bulan sabit. Karena tanda itulah, guru silatnya melatihnya lebih keras daripada siapa pun. Saat anak-anak lain menghabiskan waktu bermain, Fatih menghabiskan harinya mempelajari berbagai jurus dan

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status