Pertanyaan beracun yang baru saja dilontarkan Rosalynd seolah mengena di lubuk hati Kenneth paling dalam. Di bawah pendar lampu kamar VIP yang temaram, ia mematung sejenak. Tenggorokannya mendadak seperti ada sekat yang membatasi masuknya oksigen ke paru-paru nya. Mengakui kenyataan pahit bahwa janin di rahim istrinya telah dikeluarkan secara paksa hanya akan memperkeruh suasana dan memperlambat pemulihan fisik wanitanya. Kenneth menelan mentah-mentah semua kepedihan yang menyiksa nya. Ia memejamkan netranya sejenak, menetralkan rahangnya yang sempat mengeras, kemudian kembali memasang wajah dingin dan tak tersentuh oleh seorang penguasa tertinggi di kekaisaran. "Silahkan pikirkan apa pun yang ingin kamu pikirkan, Sayang," sahut Kenneth dengan suara nya yang sangat datar, rendah dan menyembunyikan kehancuran di hatinya. "Namun, saat ini kamu tidak diizinkan untuk keluar dari kamar ini." Tegasnya. Rosalynd menatap suaminya dengan tawa kecil yang terdengar sangat dingin dan hampa. Sa
Read more