Share

Bab 107

Author: Author Marr
last update publish date: 2026-07-16 20:59:37

Di atas meja kayu kecil yang sudah mulai mengelupas catnya, sebuah kue tart mungil berdiri sendiri. Satu lilin kecil dengan angka 26 tertancap di tengah krim yang tidak terlalu rapi, hasil olesan tanganku sendiri. Aku menyalakan lilin itu. Api kecil berkedip-kedip, seolah ikut merayakan kesendirianku.

"Selamat ulang tahun, Ana," bisikku pada diri sendiri.

Aku menatap lilin itu. Satu. Dua. Tiga detik. Lalu aku meniupnya. Tidak ada yang berteriak "hore". Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak ada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 166

    Dua minggu setelah insiden di apartemen Rena, Sebastian berdiri di depan cermin besar di sebuah kamar hotel mewah yang ia sewakan khusus untuk acara tersebut. Ia mengenakan setelan hitam klasik, dasi kupu-kupu abu-abu, dan sepatu kulit mengkilap. Namun meskipun penampilannya sempurna, ada sesuatu yang memberatkan dadanya.Malu.Ia tak pernah membayangkan akan menikah seperti ini, tanpa cinta, tanpa kebahagiaan, tanpa kehadiran keluarga. Hanya sekelompok kecil orang: Adrian sebagai saksi, Leon sebagai pendampingnya, dan beberapa staf hotel yang disewa untuk mengurus acara. Tanpa kerabat, tanpa rekan bisnis, tanpa kemewahan yang biasa ia miliki untuk setiap acara penting dalam hidupnya."Kau terlihat seperti menghadiri pemakaman, bukan pernikahan," kata Adrian saat masuk ke ruangan, menepuk bahu Sebastian."Karena ini terasa seperti pemakaman," jawab Sebastian datar. "Pemakaman harga diriku.""Kau memilih untuk bertanggung jawab. Sekarang kau harus menjalaninya dengan kepala tegak.""Ak

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 165

    Mobil itu melaju perlahan menuju rumah sakit terdekat. Di dalam kabin yang sempit, suara isak tangis Rena masih terdengar pelan, tubuh besarnya gemetar di kursi belakang. Sebastian duduk di sampingnya, tangannya masih dengan hati-hati menggenggam lengan Rena, seolah takut wanita itu akan pingsan jika ia melepaskan.Leon duduk di kursi penumpang depan, sesekali menoleh ke belakang dengan ekspresi cemas. Adrian menyetir dengan hati-hati, sesekali melirik ke spion untuk memeriksa situasi di belakang."Kita hampir sampai," kata Adrian dengan lembut.Rena tidak menjawab. Ia terus menangis, air matanya membasahi seragam pizza yang masih melekat di tubuhnya, seragam yang sama yang ia kenakan tadi malam. Seragam yang mengingatkannya pada malam mengerikan itu.Sebastian menatapnya, dadanya sesak. Ia melihat bekas merah di leher Rena, melihat bagaimana tubuh montok wanita itu bergetar karena isak tangis, melihat bagaimana mata merah bengkaknya memancarkan rasa sakit yang tak terkatakan.Dan ia

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 164

    Mobil melaju pelan menuju rumah sakit terdekat. Di dalam kabin yang sempit, suara isak tangis Rena masih terdengar pelan, tubuhnya yang besar gemetar di kursi belakang. Sebastian duduk di sampingnya, tangannya masih menggenggam lengan Rena dengan hati-hati, seolah takut wanita itu akan roboh jika ia melepaskannya.Leon duduk di kursi penumpang depan, sesekali menoleh ke belakang dengan ekspresi cemas. Adrian menyetir dengan hati-hati, sesekali melirik ke kaca spion untuk memastikan keadaan di belakang."Kita hampir sampai," kata Adrian pelan.Rena tidak menjawab. Ia hanya terus menangis, air matanya membasahi seragam pizza yang masih melekat di tubuhnya, seragam yang sama dengan yang ia kenakan semalam. Seragam yang mengingatkannya pada malam mengerikan itu.Sebastian menatapnya, dadanya terasa sesak. Ia melihat bekas merah di leher Rena, melihat bagaimana tubuh gemuk wanita itu berguncang karena tangis, melihat bagaimana matanya yang merah dan bengkak memancarkan rasa sakit yang tak

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 163

    Mobil Adrian melaju pelan di jalanan kota yang mulai padat. Sebastian duduk di kursi penumpang, tubuhnya masih terasa berat, kepalanya berdenyut setiap kali lampu lalu lintas menyorot matanya. Ia menggenggam kertas berisi alamat Rena di tangannya, kertas itu basah oleh keringatnya."Kau yakin mau melakukan ini?" tanya Adrian, matanya tetap fokus ke jalan. "Kita masih bisa memikirkan cara lain. Mungkin melalui pengacara, atau...""Tidak. Aku harus melihatnya langsung. Aku harus meminta maaf. Mata ke mata.""Baik. Tapi kau tahu, kalau dia sudah melapor ke polisi, kita...""Sudah kubilang, aku akan menghadapi apapun konsekuensinya, Aku pantas menerimanya," kata Sebastian.Adrian tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala pelan dan terus menyetir.Mereka tiba di sebuah apartemen sederhana di pinggiran kota. Bangunan tua berlantai tiga dengan cat mengelupas di sana-sini. Sebastian menatap gedung itu, dadanya berdebar. Ia hampir tidak bisa turun dari mobil."Tunggu di sini," katanya pada

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 162

    Sinar matahari pagi menyorot tepat ke wajah Sebastian yang terbaring tak berdaya di sofa kulit. Sinar itu terasa seperti tusukan jarum di pelupuk matanya. Ia mengerang pelan, mencoba memutar tubuh menjauhi cahaya, tapi kepalanya terasa seperti dipalu berulang kali."Sebastian. Bangun."Suara tegas itu menusuk telinganya. Sebastian mengernyit, mencoba mengabaikannya, tapi tangan yang mengguncang bahunya membuatnya terpaksa membuka mata.Adrian berdiri di hadapannya, jas abu-abu tua rapi, rambut cokelatnya disisir sempurna, dan ekspresi wajahnya campuran antara khawatir dan jengkel."Kau terlihat seperti mayat yang baru bangkit, Apa yang kau lakukan semalam? Aku meneleponmu puluhan kali. Kau bahkan tidak membalas pesanku," kata Sebastian.Sebastian mengangkat kepalanya perlahan, rasa sakit berdenyut di ubun-ubunnya. Ia menatap sekeliling ruangan. Botol-botol wiski kosong. Pecahan gelas di dekat dinding. Kotak pizza yang masih tertutup rapi di sudut meja."Ingatanku buram," gumam Sebasti

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 161

    Sebastian menatap bayangannya sendiri di cermin kaca, suit mahal yang kusut, dasi yang sudah dilepas dan tergeletak di lantai karpet Persia, serta botol-botol wiski kosong yang berserakan di meja.Leon dan Ana sudah bahagia.Dan Sebastian? Ia hanya bisa meneguk wiski demi wiski, membiarkan cairan panas itu membakar tenggorokannya, berharap rasa pahitnya bisa menghapus kenangan."Aku takkan mengganggu Ana lagi."Itu janjinya pada dirinya sendiri.Tapi malam ini, di kantor megah yang sunyi, dengan hanya cahaya lampu meja yang redup dan gemerlap kota di luar jendela, Sebastian merasa kesepian.Ia meneguk lagi. Botol ketiga hampir habis. Kepalanya terasa berat, pandangannya mulai kabur, tapi ia masih bisa melihat bayangan Ana di setiap sudut ruangan di sofa kulit tempat ia pernah membaringkannya, di meja kerja tempat ia pernah menundukkannya, di karpet tebal tempat ia pernah merasakan tubuh gendutnya gemetar di bawah sentuhannya."Brengsek," gumamnya, melempar gelas kristal ke dinding. G

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 6

    Aku terdiam.Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.“Kenapa aku?” tanyaku.Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya men

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 5

    Dua hari berlalu. Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 4

    Aku menghentikan langkah.Tubuhku kaku seperti patung. Kata-kata Tuan Leon menusuk dari belakang, tajam dan dingin, seperti ujung pisau yang ditempelkan di leher."Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?"Aku tidak berani menoleh. Mataku terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 3

    Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status