MasukAuthor's Pov.Matahari sore menyinari ruang kerja Leon melalui jendela kaca besar yang menghadap ke cakrawala London. Meja kayu mahoninya dipenuhi dokumen, laptop terbuka, dan tiga gelas kopi yang sudah dingin. Leon duduk di kursinya dengan setelan jas abu-abu, dasi biru tua yang sudah sedikit longgar. Wajahnya masih datar seperti biasa, tapi matanya menunjukkan kelelahan yang tidak bisa dia sembunyikan, lingkaran hitam tipis di bawah matanya, kerutan halus di dahi yang tidak pernah hilang akhir-akhir ini.Dia baru saja menandatangani dokumen terakhir ketika pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan.Sebastian masuk.Dan di gendongannya, ada seorang anak laki-laki kecil.Leon mengangkat wajah. Matanya langsung tertuju pada Sebastian, pada jaket kulitnya yang basah karena gerimis di luar, pada ekspresi tegang di wajahnya yang garang, pada sesuatu yang berbeda dari dirinya lalu matanya bergerak ke arah anak kecil itu.Anak itu berusia sekitar lima tahun. Rambut hitam pekat, sedikit ker
Aku langsung berdiri tanpa kata-kata. Aku hanya berdiri, merapikan rok span hitamku, dan menatap Robert dengan mata yang tidak lagi ramah."Aku tidak berminat," kataku dingin.Robert tersenyum, senyum yang tadinya ramah kini terlihat menjijikkan. "Hanya bercanda, Nona. Aku hanya menguji loyalitasmu.""Kau tidak menguji apa pun. Kau hanya menunjukkan siapa dirimu sebenarnya.""Aku pemilik perusahaan ini. Aku bisa memberi kau pekerjaan yang layak.""Tidak, terima kasih."Aku berjalan ke pintu."Sebastian pasti akan kecewa. Dia sudah repot-repot merekomendasikanmu."Aku berhenti dan tidak menoleh."Katakan pada Sebastian, bahwa aku lebih memilih menjadi pengangguran daripada bekerja untuk pria yang tidak bisa menjaga perkataannya."Aku keluar. Aku menutup pintu dengan pelan tidak dibanting, tapi cukup tegas untuk mengirim pesan.Di luar gedung, aku berdiri di trotoar dengan napas terengah-engah. Tanganku gemetar karena marah.Aku sudah berpikir bahwa pekerjaan ini adalah awal dari hidup
Keesokan harinya.aku berdiri di depan cermin besar di kamar tidur utama apartemen Sebastian. London terbentang di balik jendela kaca, lampu-lampu kota masih berkelap-kelip meskipun matahari sudah mulai terbit. Aku menatap bayanganku sendiri-wanita yang tidak lagi segemuk dulu, tapi juga tidak sekurus model-model di majalah. Berisi. Padat, dada bundar yang masih membuatku tidak nyaman kadang-kadang, bokong besar yang selalu menarik perhatian pria-pria hidung belang di club malam.Hari ini aku memakai rok pendek span berwarna hitam yang menempel di pinggul dan paha. Di atasnya, kemeja putih lengan panjang yang sedikit ketat di bagian dada. Sepatu hak rendah berwarna hitam melengkapi penampilan. Aku tidak terlihat seperti bartender. Aku terlihat seperti wanita kantoran. "Mom!" Ethan muncul di pintu kamar, masih memakai piyama dinosaurus kesukaannya. "Kamu cantik!"Aku tersenyum. "Terima kasih.""Kamu mau ke mana?""Aku mau kerja. Hari ini aku mulai kerja.""Di mana?""Di kantor. Di ge
Keesokan paginya, sebuah mobil mewah hitam berhenti di depan apartemenku.Bukan mobil biasa. Mobil panjang dengan kaca gelap dan sopir berseragam rapi. Aku melihat dari balik jendela, jantungku berdegup kencang. Sebastian sudah berdiri di luar, berbicara dengan sopir itu, lalu menatapku dari kejauhan."Semuanya sudah siap," katanya saat aku membuka pintu."Apa?""Kita berangkat ke London.""Aku belum...""Semua sudah aku siapkan. Koper kau sudah aku bawakan. Ethan sudah bangun dan sudah sarapan."Aku menoleh ke dalam apartemen. Ethan duduk di meja kecil dengan piring kosong di depannya. Wajahnya bersih, rambutnya rapi, bajunya baru."Mom! Kita pergi ke London! Pak Sebastian bilang ada dinosaurus di sana!"Aku menatap Sebastian. "Kau sudah menyiapkan semuanya?""Aku tidak mau menunggu.""Tapi aku belum...""Kau sudah bilang mau. Kau sudah bilang butuh pekerjaan baru dan sudah bilang ingin kehidupan yang lebih baik untuk Ethan. Aku hanya membantu."Aku tidak bisa membantah.Kami turun.
Hari ini adalah malam terakhirku di club.Aku datang lebih awal. Lampu-lampu disko masih redup, musik masih pelan, dan beberapa pelayan sedang menyiapkan meja. Aku berjalan ke belakang bar, meletakkan celemek hitamku di atas meja, dan menatap Maggie yang sedang menghitung uang kas."Maggie," panggilku.Dia mengangkat wajah. "Ada apa?""Aku mau berhenti."Maggie berhenti menghitung. Dia menatapku dengan mata tidak percaya. "Apa?""Aku mau berhenti bekerja di sini. Malam ini adalah malam terakhirku.""Apa kau bercanda?""Aku serius."Maggie meletakkan uangnya. Dia berjalan ke arahku, tangannya di pinggang."Ini terlalu mendadak, kau tahu sendiri kita kekurangan staf. Siapa yang akan menggantikanmu?""Aku sudah bawa penggantimu."Aku menunjuk ke arah pintu belakang, di mana seorang wanita paruh baya berdiri dengan senyum malu-malu. Dia adalah tetangga apartemenku, wanita yang selama ini menjaga Ethan saat aku bekerja. Ternyata dulu dia juga bartender di club lain sebelum pensiun dan pin
Restoran itu tidak mewah. Hanya tempat sederhana di pinggir jalan dengan meja kayu dan kursi plastik. Tapi aroma daging panggang yang menguar dari dapur membuat perutku keroncongan. Ethan duduk di pangkuan Sebastian, entah bagaimana dia sudah sangat nyaman dengan pria besar itu dan memandangi piring yang penuh dengan daging panggang, kentang, dan sayuran. "Kamu mau makan sendiri, atau aku bantu?" tanya Sebastian. "Aku bisa sendiri," kata Ethan dengan percaya diri. Dia mengambil garpu dan menusuk sepotong daging tapi karena terlalu besar, daging itu jatuh kembali ke piring. Sebastian tersenyum. "Aku potongkan." Dengan sabar, dia memotong daging menjadi potongan-potongan kecil yang mudah dimakan Ethan. Ethan memakannya dengan lahap, begitu lahap sampai aku hampir menangis melihatnya. Sudah lama aku tidak melihat Ethan makan seenak ini. "Enak?" tanya Sebastian. "Enak sekali!" jawab Ethan dengan mulut penuh. "Kamu mau datang ke rumahku setiap hari?" Sebastian menoleh padaku, terse
Akhirnya, setelah lima hari di rumah sakit, aku diperbolehkan pulang.Dokter bilang jahitanku sudah mulai kering dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Aku masih harus istirahat total setidaknya seminggu lagi, tidak boleh melakukan aktivitas berat, dan tentu saja tidak boleh berhubungan intim.Leon men
Aku terdiam.Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.“Kenapa aku?” tanyaku.Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya men
Dua hari berlalu. Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan
"Jam kerjaku sudah selesai untuk hari ini," kataku."Kau tinggal di rumahku, kau makan di rumahku, kau tidur di rumahku. Selama kau di sini, kau ikut aturanku."Aku tersenyum, bukan senyum bahagia. Senyum pahit yang sudah sering aku tunjukkan akhir-akhir ini."Aturanmu? Apa aturanmu?Bahwa aku boleh







