Di ruang kerja lantai dua puluh tujuh, Alexandro membuka pintu dengan langkah tegap seperti biasa. Jas hitamnya rapi, rambutnya tertata sempurna, wajahnya datar seperti patung tapi langkahnya terhenti di ambang pintu.Meja Lucia kosong.Alexandro berdiri di depan meja itu beberapa detik. Matanya menatap kursi kosong di balik meja. Kursi yang biasanya dipenuhi oleh tubuh Lucia yang bergerak gelisah saat mengetik, atau bahunya yang naik turun saat dia menghela napas frustrasi menghadapi angka-angka, atau wajahnya yang mengernyit saat dia terlalu fokus membaca laporan."Marco," panggilnya tanpa menoleh.Marco yang berdiri di dekat pintu langsung mendekat."Ya, Tuan?""Hari ini Lucia kuliah?""Ya, Hari ini hari pertama."Alexandro mengangguk. Dia berjalan ke mejanya, duduk di kursinya, membuka laptop. Matanya menatap layar, tapi tidak benar-benar membaca. Jari-jarinya berhenti di atas papan ketik, tidak bergerak."Aada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Marco hati-hati."Tidak."Marco tida
Read more