Setelah kejadian dengan pramuniaga itu, aku memutuskan untuk tidak tinggal diam. Aku sudah mengambil beberapa gaun warna-warni dari bagian ukuran besar, merah terang, biru tua, kuning cerah. Aku memegangnya erat-erat, merasa sedikit menang, tapi belum puas.Mataku beralih ke Alexandro.Dia berdiri di sampingku dengan kemeja hitam dan celana hitamnya. Seluruh tubuhnya serba hitam, seperti sedang berduka. Seperti dia tidak pernah mengenal warna lain selain hitam dan putih.Aku tersenyum nakal."Aku ingin memilihkan baju untukmu juga."Dia mengangkat alis. "Untukku?""Ya. Kau selalu hitam. Aku bosan.""Aku tidak bosan.""Tapi aku bosan melihatmu."Dia menatapku dengan mata yang tak bisa kubaca. Tapi aku tak peduli. Aku sudah berjalan ke rak pakaian pria, mataku menyusuri deretan kemeja, kaos, jaket.Lalu aku menemukannya.Sebuah kaos polos, bahan katun lembut, dengan kerah. Biru muda cerah, seperti langit pagi.Aku mengambilnya. Lalu aku ambil yang merah, lalu kuning, lalu turquoise, lal
続きを読む