Bab 143 Hongwu menghela napas, terdengar setengah tertawa namun penuh haru. Ia tak menjauh sedikit pun. Sebaliknya, ia justru mencondongkan tubuh semakin dekat, dadanya nyaris menyentuh sandaran kursi, memelukku dalam kehangatan yang menyelimuti — beraroma kayu cendana bercampur ketegasan yang mendalam, sejuk namun membara. "Sungguh menyenangkan mendengarnya..." gumamnya pelan, matanya tak lepas dari wajahku. "Karena aku lebih suka melihatmu mempraktikkannya untuk pertama kalinya bersamaku, daripada sekadar membacanya dari lembaran buku seolah kau sedang belajar di ruang pelajaran yang jauh dan dingin." Tangannya perlahan turun dari pergelangan tanganku hingga melingkar lembut namun teguh di pinggangku, menarik tubuhku sedikit saja semakin dekat ke arahnya — jarak yang nyaris tak terlihat namun terasa begitu penuh makna. "Kau gemetar, Lianhua..." ucapnya pelan, bukan sebagai pertanyaan. Suaranya tenang dan jelas, namun tersembunyi di balik ket
Última atualização : 2026-08-11 Ler mais