Saat melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang lengang, langkah Raymond mendadak terhenti. Di hadapannya, beberapa tenaga medis keluar dari ruang perawatan Viola dengan wajah yang cukup tegang. Sisa-sisa peluh tampak di dahi mereka.Dada Raymond berdebar lebih kencang, gelombang ketakutan membanjiri kala membayangkan kemungkinan terburuk dan paling gelap yang bisa menimpa putrinya.Raymond mempercepat langkahnya, memangkas jarak dengan terburu-buru hingga berdiri di ambang pintu. Di sana, ia mendapati dokter spesialis yang menangani Viola sedang berdiri di hadapan Jovita.“Pasien baru siuman, kami akan terus memantau terus memantau perkembangan Viola, syaraf motorik dan kondisi fisiknya masih sangat lemah. Jika memang terpaksa, kami akan memberikan obat penenang dosis terkontrol agar ia bisa kembali beristirahat dengan tenang,” ucap sang dokter dengan nada tenang.Mendengar penjelasan itu, tarikan napas Raymond yang tadinya memburu perlahan melandai. Ada kelegaan luar biasa yang men
Baca selengkapnya