Jovita langsung menegakkan tubuh, mata melebar panik. Ia buru-buru menarik blusnya kembali ke posisi semula dan merapikan roknya, sementara Raymond dengan cepat mengancingkan kembali kemejanya.“Ray, kamu nggak apa-apa?” Suara Jimmy terdengar dari balik pintu.Jovita menatap suaminya dengan wajah memerah, napasnya masih belum stabil. Raymond hanya menghela napas panjang, rahangnya mengeras menahan frustrasi.“Sebentar,” jawab Raymond dengan suara yang dipaksakan tenang.Ia menatap Jovita yang masih duduk di meja, rambut sedikit berantakan dan bibirnya bengkak karena ciuman. Senyum miring muncul di wajahnya, meski matanya masih penuh nafsu yang tertahan.“Nanti malam di rumah,” bisiknya pelan, ibu jarinya mengusap bibir bawah Jovita. “Om belum selesai sama kamu.”Raymond segera menarik napas panjang, berusaha menetralkan napasnya yang masih terengah. Ia menatap Jovita yang panik di atas meja lalu berbisik pelan di depan wajah istrinya.“Kamu masuk ke toilet dulu, rapihin dandanannya,” b
続きを読む