Melihat tatapan intens dan gestur protektif Raymond, Aris yang kebetulan mejanya tepat di samping Jovitalangsung berinisiatif menyingkir sejenak. Bukan sekadar tahu diri karena ini menyangkut percakapan pribadi, melainkan sebagai sesama lelaki, Aris sangat paham dengan getaran perasaan dan gelagat posesif Raymond terhadap Jovita.Sebenarnya, untuk urusan semacam ini Raymond bisa saja mengirim pesan singkat atau menelepon. Tapi, ia lebih memilih mendatangi istrinya secara langsung, tentu saja bukan hanya untuk menyampaikan kabar, melainkan juga sebagai bentuk 'sidak' halus untuk memastikan tidak ada lagi mata-mata pria di kantor yang berani melirik sang istri.“Terima kasih, Ris,” ucap Raymond singkat saat Aris beranjak pergi dan merelakan kursinya agar Raymond bisa duduk dan berbicara lebih nyaman di samping Jovita.Jovita menatap suaminya lekat-lekat, lalu mengangguk samar. “Enggak apa-apa, Om. Pergilah.” Ia kemudian menunduk perlahan, mengusap perutnya sembari berujar lembut, “Yang
Read more