“Istri Mas, ya? Ganggu aja...” Suara Felisa terdengar samar, tapi sangat genit dari seberang telepon.“Bukan. Teman kamu mungkin, suaranya lembut, sepertinya cantik. Kenalin, nanti aku kasih fee kamu,” jawab pria itu santai.“Nama kontaknya siapa?”“Vio.”Tiba-tiba panggilan dimatikan secara sepihak.Tut... tut... tut...Tangan Viola bergetar hebat. Jemarinya kaku mencengkeram ponsel dingin itu. Dengung riuh pengunjung kafe, denting cangkir, dan aroma seduhan kopi espresso yang tadi menenangkan, mendadak menguap berganti kehampaan.Tenggorokan Viola terasa tercekat, seolah ia baru saja dihantam oleh fakta yang sangat menyakitkan.Selama ini, Viola selalu menganggap semua keburukan mamanya hanyalah narasi karangan dari papanya untuk mencari pembenaran atas keputusan cerai yang dia ambil, atau bisikan orang yang iri akan kecantikan mamanya.Tapi kali ini, meski Viola tidak melihat secara langsung dengan mata kepala sendiri, potongan percakapan singkat dan nada suara genit itu sudah cuku
Leer más