Ponsel di atas meja itu terus bergetar nyaring.Bening panik setengah mati. Dengan napas terengah dan tangan bergetar, ia mencoba menggapai ponselnya. Ia berniat langsung berdiri, namun lingkaran lengan Banyu di pinggangnya justru mengunci lebih ketat, menahan tubuh Bening agar tetap berada di pangkuannya.“Mas... lepas. Aku harus angkat ini,” bisik Bening memohon, suaranya gemetar menahan cemas.Banyu tidak bergeming. Tatapannya mendadak dingin dan kelam, memperlihatkan sisi posesifnya yang enggan mengalah. Banyu enggan melepaskan, justru menyandarkan dagunya di bahu Bening, membiarkan ibu jarinya mengusap pelan pinggul wanita itu di balik pakaian tipisnya.“Angkat saja,” bisik Banyu tepat di ceruk leher Bening. Napas hangatnya sengaja disapukan ke kulit sensitif itu.Bening menggigit bibirnya rapat-rapat. Rasa bersalah seketika mencekik dada. Dengan jemari yang masih bergetar hebat, ia menggeser layar dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.“Ha... halo, Dokter Tara?” panggil Benin
Read more