“Ning...” bisik Banyu parau.Bening menarik napas panjang, mencoba mengurai sesak yang mendadak menghimpit dadanya. Ia memalingkan wajah sejenak, mengibaskan tangannya pelan. “Lupakan, Mas. Enggak usah dibahas sekarang. Yang penting Mas Banyu fokus pulih dulu.”“Aku tidak bisa melihatmu bersama Tara, Ning.”Kalimat itu meluncur tegas dari bibir Banyu. Suaranya memang lemah, tetapi ketetapan hati di dalamnya terdengar begitu nyata dan jujur.Napas Bening langsung tertahan, air mata Bening meleleh, menetes melewati pipinya tanpa bisa dibendung. Pertanyaan, rasa bersalah, serta ingatan akan kepedihan masa lalu seolah berkumpul menjadi satu ledakan emosi.‘Sebenarnya, aku juga begitu, Mas Banyu. Tapi, saat itu aku harus segera ambil keputusan agar Mamamu berhenti menuduhku’ sahut Bening namun hanya dalam hati.Melihat lelehan air mata itu, Banyu menggerakkan tangannya yang terbebas dari infus secara perlahan. Dengan gerakan yang begitu hati-hati dan penuh kehangatan, jemarinya yang dingin
Read more