“Tante, Om… Dokter Tara… sebaiknya kalian pergi. Jujur saja, kedatangan kalian mengganggu kedamaian hidup saya,” ucap Bening, mencoba menegarkan suaranya yang sempat bergetar.Ibu Retno mendongak, menatap wajah pucat Bening. Sudut bibirnya bergetar, egonya masih berontak untuk tunduk. Namun, remasan kuat Pak Harjanto di pundaknya memaksa wanita itu untuk menahan umpatan yang sudah di ujung lidah. Peringatan suaminya beberapa hari lalu kembali terngiang, membuat nyalinya sedikit menciut meski matanya masih menyalang penuh kebencian."Mama, ingat apa yang Papa katakan," bisik Pak Harjanto, suaranya rendah namun penuh penekanan.Ibu Retno membuang muka, napasnya memburu menahan geram. "Dia yang harusnya sadar posisi, Pa! Sudah diusir pun masih bisa membuat keluarga kita pecah berantakan!"“Silakan keluar!” usir Bening tegas. Dia melangkah mundur, membuka pintu kontrakannya lebih lebar dan memberikan jalan yang jelas agar mereka semua angkat kaki.Tara yang berdiri paling dekat menjadi or
Read more