“Mas Banyu... jangan begini,” bisik Bening. Suaranya bergetar, tertahan di tenggorokan saat melihat tatapan Banyu yang begitu gelap dan intens.Banyu tidak mundur selangkah pun. Kedua tangannya terangkat, mengurung Bening di kanan dan kiri dinding. Jarak tubuh mereka begitu rapat hingga Bening bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari dada bidang pria itu.“Memastikan apa, Ning?” ulang Banyu dengan suara serak, rendah, dan penuh penekanan. “Memastikan kalau di hatimu itu memang cuma ada aku... bukan Tara.”“Mas, ini hotel. Kalau ada yang lihat—”“Pintu sudah kukunci, Ning,” potong Banyu cepat.Tangan kanan Banyu bergerak naik, jemari kasarnya menyentuh rahang Bening, lalu perlahan mengelus pipinya yang terasa hangat. Sentuhan itu pelan, namun sanggup menyengat seluruh saraf Bening hingga wanita itu menahan napasnya rapat-rapat.Bening mencoba mendorong dada Banyu dengan kedua telapak tangannya. Namun, otot dada Banyu yang keras dan tegap sama sekali tidak bergeser. Malah, gerakan
Read more