“Kita sudah sampai...”Sebuah usapan halus di bahu menyadarkan Nawang dari tidurnya. Ia membuka mata perlahan, mengerjap beberapa kali menyesuaikan penglihatannya dengan remang lampu garasi. Di sampingnya, Bagas sedang menatapnya lembut dengan senyum tipis di bibir.Nawang buru-buru menegakkan posisi duduknya. “Ah... Sudah sampai, ya, Mas? Biar aku yang menggendong Lily,” tawarnya merasa agak sungkan.“Tidak usah. Biar aku yang menidurkan Lily di kamarnya dulu. Setelah itu baru aku tunjukkan kamar kamu,” sahut Bagas tenang.Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat mereka sampai di kediaman Bagas. Perjalanan memakan waktu lebih lama dari perkiraan karena Bagas sengaja menahan laju kendaraan demi kenyamanan Lily yang tertidur sepanjang jalan.Nawang mengangguk patuh. Ia turun dari mobil, mengambil kopernya dari bagasi lalu melangkah mengekor di belakang Bagas menuju pintu depan. Begitu Bagas menekan bel, tak lama kemudian seorang perempuan setengah baya—mungkin berusia lima puluhan—m
Mehr lesen