Huekk! Huekk!Bening buru-buru menyingkap selimut dan berlari ke kamar mandi. Perutnya mendadak mulas dan mual hebat.Suara mual itu membangunkan Banyu. Ia langsung meloncat dari kasur dan berlari menyusul Bening, memijat lembut tengkuk Bening di depan wastafel dengan raut panik bercampur binar bahagia.“Ning... Kenapa? Mual banget, ya?” tanya Banyu, tak bisa menyembunyikan pendar gembira di matanya. Di pikirannya, doa dan usaha keras mereka semalam serta malam-malam sebelumnya seolah langsung berbuah hasil.Bening membasuh mulutnya, tubuhnya terasa lemas. “Iya, Mas... Tiba-tiba mual sekali, perutku mulas tidak enak, apa masuk angin ya?.”Banyu tersenyum lebar, merengkuh bahu Bening hangat. “Jangan-jangan... Usaha kita berhasil, Ning? Kamu hamil?”Bening menatap suaminya, merasa ragu namun tak tega mematahkan binar bahagia di wajah Banyu. “Masa secepat itu, Mas? Tapi tidak tahu juga... Bagaimana kalau kita periksa saja ke klinik Dokter Tara?”Senyum Banyu seketika memudar saat mendeng
Read more