“Nggak, Tante. Maaf, saya tidak bisa. Saya punya rumah sendiri di sini,” sahut Bening pelan namun mantap, menarik perlahan jemarinya dari genggaman Ibu Retno. “Tapi jangan khawatir, saya akan datang menjenguk Mas Banyu sesekali.”Ibu Retno menghela napas panjang, menatap Bening lurus-lurus. “Kamu beneran serius sama Tara?”“Astaga... Tante... kami beneran tunangan, lho! Lihat ini,” sela Tara cepat. Pria itu meraih jemari Bening dan mengangkatnya ke udara, memamerkan cincin yang melingkar di jari manis perempuan itu.Melihat kilau cincin itu, Ibu Retno langsung membuang muka. Raut wajahnya berubah masam, berpura-pura seolah tidak melihat apa pun.“Kalau kamu mau, Banyu juga bisa melakukan hal yang sama,” gumam Ibu Retno tenang, tanpa beban.Nawang yang berdiri di belakang ibunya langsung mendekat. “Ma... Mama tidak boleh begini. Kalau Papa sama Abang tahu, mereka bisa marah sama Mama,” bisiknya mengingatkan.“Mama kan cuma mau bantu abangmu,” balas Ibu Retno tidak mau kalah.“Tapi Aban
Read more