“Apa maksudmu?” bisik Tara dengan rahang mengetat kaku, matanya menatap Banyu tajam.Namun Banyu tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Ia hanya tersenyum tipis, senyuman dingin yang penuh kiasan, sebelum perlahan memutar tubuhnya. Kaki Banyu yang belum pulih sepenuhnya mulai bergetar menahan bobot tubuh, memaksanya untuk kembali duduk di atas kursi roda dengan napas sedikit terengah.“Jangan jadi pengecut, Banyu!” umpat Tara.“Kalian..sudah cukup!” Gertak Bening “Kalau kalian ribut begini, aku yang akan pergi!” Ancaman yang membuat mereka bungkam.Tara mengepalkan tangannya di samping tubuh, menatap sepupunya itu dengan kilat kemarahan yang tertahan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Tara memutar tumitnya dan melangkah keluar dari kamar rawat, membiarkan pintu tertutup.Setelah hari perselisihan itu, suasana di kamar rawat berubah makin dingin dan penuh jarak. Bening berusaha sebisa mungkin bersikap netral, meski tiap kali pandangannya beradu dengan Banyu, ingatan tentang ke
Read more