"Saya salah bicara ya, Mas?" tanya Bening, mendadak kikuk melihat reaksi Banyu. Matanya yang bulat mengerjap polos, sama sekali tidak menyadari bahwa kata 'melayani' yang baru saja diucapkannya terdengar sangat provokatif di telinga seorang pria dewasa.Banyu berdehem, buru-buru menguasai diri. "Tidak. Bukan begitu." Pria itu memaksakan sebuah senyuman tipis, lalu menunjuk ke arah pintu paviliun. "Ayo masuk, di luar makin berangin. Mbak Bening harus istirahat."Bening mengangguk, membalikkan tubuhnya untuk melangkah. Namun, karena fokusnya terbagi oleh rasa canggung, kakinya yang masih kaku tidak sengaja tersandung undakan batako di pekarangan."Ah!"Bening terpekik saat keseimbangannya hilang. Tubuhnya limbung, ambruk ke depan.Dengan refleks, Banyu maju. Lengan kekarnya menyambar pinggang Bening, menarik tubuh wanita itu dengan satu hentakan kuat hingga menempel erat pada dada bidangnya.Bruk.Hidung Bening menyentuh dada bidang Banyu dengan keras. Segalanya seolah melambat. Waktu b
Read more