Nyonya bSelin tidak bisa menjawab, itu karena mulutnya hanya bisa mengeluarkan desahan dan rintihan yang semakin tidak terkendali, dia merasakan sesuatu membangun di perutnya, panas, intens, seperti gelombang yang siap pecah. "Bayu, aku... aku...!" Nyonya Selin merintih, tangannya mencengkeram pinggiran meja sampai kuku-kukunya palsunya patah. "Ayo, Nyonya," desis Bayu, tangannya turun untuk mengusap kacang milik nyonya Selin dengan gerakan cepat dan teratur. "Aku ingin merasakanmu. Aku ingin melihat Nyonya Besar kehilangan kendali seperti ini, lepaskan, Nyonya...." "Ahhhh, Bayu!!" Nyonya Selin menjerit, jeritan panjang dan primal yang tidak pernah ia bayangkan bisa keluar dari mulutnya. Tubuhnya kejang, dinding-dinding basahnya mengerut di sekitar Bayu, meremasnya dengan kuat, menariknya semakin dalam. Bayu mendengus, dua dorongan terakhir yang dalam dan keras, lalu ia menahan napas, tubuhnya kaku, dan nyonya Selin merasakan semburan hangat membanjiri bagian terdalamnya. Kedua
Read more