> "Maaf..."> "...aku terlambat."Suara itu tenang.Tidak keras.Namun cukup membuat seluruh ruangan membeku.Alexander menatap siluet yang berdiri di ambang Gerbang Akhir.Pria itu mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu.Wajahnya tertutup bayangan.Hanya jam saku hitam di tangan kirinya yang terlihat jelas.Jam itu berdetak pelan.**Tik...****Tik...**Berbeda dengan Jam I yang berdetak seperti jantung.Jam itu...Berdetak seperti waktu.---Orion langsung berlutut."Tidak mungkin..."bisiknya."Aku sendiri yang...""...menghancurkannya."Pria itu tersenyum tipis."Ternyata...""...Kau masih hidup, Orion."Alexander memperhatikan mereka bergantian."Kalian saling kenal?"Orion mengangguk pelan."Dia...""...muridku."Ruangan langsung sunyi.---Samuel mendengus."Lho?""Berarti Kakek pernah punya murid?"Pria itu tertawa kecil."Dulu.""Sebelum beliau memilih menjaga Labirin."Orion perlahan berdiri.Tatapannya tidak lagi dipenuhi ketakutan.Melainkan penyesalan."Sudah lama..."
Last Updated : 2026-08-11 Read more