"Y-Yang Mulia S-Sultan?!" jerit Amira tertahan, tubuhnya menegak kaku dengan wajah yang membakar hebat. "Anda sedang apa?!"Rayyan tidak langsung melepaskan lumatannya saat ia mendongak perlahan menatap Amira. Ia justru makin memperdalam usapan bibirnya di area puncak dada yang telah menegang sempurna itu, lalu memberikan satu gigitan kecil yang mengundang desahan kejut dari bibir Amira.Saat Sultan melepaskan hisapannya, sebuah senyum miring yang berbahaya terukir di bibir basah sang penguasa Al-Fariz."Aku sedang menuntut hakku, Amira..." bisik Rayyan dengan suara bariton pagi hari yang serak dan berat. "Masa istirahatmu sudah habis.."Tanpa aba-aba, tangan kekar Rayyan menyibakkan selimut beludru tebal itu seutuhnya. Udara pagi yang sejuk menyentuh kulit Amira, membuatnya tersentak mendapati dadanya semakin terpampang, tanpa perlindungan apa pun.Panik, Amira segera merangkak mundur, berusaha mendekati kepala ranjang untuk menyelamatkan diri. Namun, sebelum ia sempat mencapai tuju
Terakhir Diperbarui : 2026-08-03 Baca selengkapnya