"Astaga, Amira... pengawal mana yang tega berbuat sekasar itu padamu?"Suara renyah Putri Sahira bergema memantul di dinding pualam kamar mandi, bercampur dengan uap hangat bermekar aroma mawar. Tangan sang putri tertahan di udara, jari-jemarinya yang berhiaskan cincin batu rubi menunjuk tepat ke arah bawah rahang Amira.Amira tersentak pelan. Refleks, ia langsung menarik kerah kemeja hitamnya ke atas, merapatkan kain itu hingga menutupi bekas ciuman dan gigitan panas Rayyan yang masih membengkak.Namun, sebelum Amira sempat merangkai alasan atau menyusun kata maaf, Sahira mendadak mengerlingkan matanya."Astaga... aku seharusnya tidak menanyakan hal pribadi seperti itu, Amira," bisik Sahira dengan nada penuh penyesalan yang teramat halus. "Maaf, aku sungguh tidak bermaksud lancang. Sungguh."Amira menundukkan kepalanya dalam-dalam, menekan detak jantungnya yang sempat berpacu liar di balik dada. "Tidak apa-apa, Tuan Putri. Hamba yang memohon maaf atas ketidaknyamanan ini."Sahira me
Terakhir Diperbarui : 2026-08-12 Baca selengkapnya