Dewa tersenyum tipisnya melihat bibir Nabila yang mengerucut sebal. Ia kembali menggeser duduknya, merapatkan jarak yang sempat Nabila buat, lalu mencubit pelan hidung wanita itu."Iya, saya memang egois. Pemaksa juga, iya," aku Dewa tanpa beban, suaranya terdengar renyah di tengah keheningan kamar."Tapi semua keegoisan saya ini cuma berlaku untuk satu orang. Kamu."Nabila mendengus, menepis pelan tangan Dewa dari hidungnya."Om gak mikirin perasaan aku. Kalau tahu jadinya bakal begini, waktu itu aku mau kita nikah biar aku kabur aja yang jauh.""Sudah terlambat, Sayang. Kamu sekarang dan selamanya udah sah menjadi istri saya," sahut Dewa tenang."Lagipula, saya gak merugikan kamu juga kan kalo saya mencintai dan menyayangi kamu, hm?"Nabila memalingkan wajahnya."Om curang. Om selalu punya jawaban buat bikin aku kelihatan kalah.""Ini bukan masalah menang atau kalah, sayang," lembut Dewa berkata, kini tangannya beralih mengusap perut Nabila di balik piyamanya."Ini tentang kita. Ten
Magbasa pa