Sementara itu, di penjara wanita, Ghea melangkah masuk ke ruang kunjungan. Ruangan itu sunyi, dengan meja-meja kayu yang dipisahkan oleh kaca tebal. Ghea mengenakan dress biru muda sederhana, dan wajahnya tenang namun dingin. Langkahnya mantap, tidak ada keraguan. Di hadapannya, Bu Ratna duduk dengan tubuh yang kurus dan mata yang merah. Wanita tua itu terlihat jauh lebih tua dari yang terakhir Ghea lihat. Rambutnya yang putih acak-acakan, dan kebaya yang dia kenakan kusut. Tapi kemarahannya masih membara."Ghea," desis Bu Ratna, suaranya penuh kebencian. Dia menggenggam meja di hadapannya, kuku-kukunya mencakar permukaan kayu. "Kau! Kau yang melakukan ini padaku!"Ghea duduk di kursi di hadapan Bu Ratna, menatap mertuanya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. Tatapan itu dingin, seperti es yang tidak akan pernah mencair. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, Bu. Kau telah meracuniku selama lima tahun. Kau telah membunuh anakku. Kau pantas mendapatkan ini. Dan kau, memb
Last Updated : 2026-09-30 Read more