Greg: Laila has collapsed.Greg: I don’t think she’s gonna make it this time.Sesampainya di London, mendungnya langit enggan membiarkan Arman istirahat sejenak. Perjalanan yang ia tempuh selama dua jam dari Italia, menghantarkannya kembali pada kenyataan bahwa hidupnya kini berpusat di London.Pesan dari Greg baru Arman baca ketika ia sampai di bandara. Tak hanya suhu rendah kota London yang menusuk tulang, tapi seluruh raga Arman ikut luruh. Kondisi Laila memburuk.“Hello. Greg. Where are you right now?” tanya Arman di telepon, tak melewatkan sedetikpun untuk mengecek keadaan teman-temannya.“I’m in the hospital. She’s in the ICU. The doctor hasn’t said anything,” ungkap Greg dengan suara gemetar.Setiap tarikan napasnya menahan tangis, membuat hati Arman ikut miris.“I’m on my way to the hospital. See you there,” ucap Arman sebelum menutup telepon.Sambil berlari kecil sepanjang koridor, Arman mencari taksi. Sebuah kendaraan menepi.“St. Andrew’s Hospital, please. Choose the fastes
Read more