“Jadi, mau sampai kapan kalian diem-dieman? Udah hari ketiga, nih,” ucap Kemal mengingatkan.Miri hanya melirik diam, sambil mencuci tangan di bak cuci. Tanpa perlu menyebut nama, ia sudah tahu siapa yang dimaksudkan oleh Kemal.Sahabatnya mendekat, menyikut lengan Miri saat Jihan baru saja datang. Wajahnya tampak lesu, bibirnya bisu saat melewati Kemal dan Miri. Seakan-akan tak mengenali mereka.“Kalian yang berantem kenapa aku juga yang kena akibatnya, sih,” protesnya kesal.“Kalau kamu mau tahu jawabannya, tanya aja dia langsung. Aku udah coba tanya apa masalahnya, dia tetap diam,” sahut Miri, mengeringkan tangannya dengan handuk.Kemal menggeleng.Sambil mengamati Miri hilir mudik mengambil bahan dari gudang dan kulkas, Kemal coba mengulik masalah apa yang menyebabkan semua ini.“Apa kamu ngomong sesuatu yang buat dia marah?” tanya Kemal, mencubit dagu.“Aku nggak tahu, Mal. Dan … seingatku sih nggak,” bantah Miri.Kemal bergumam, menyesap kopi paginya.Di sisi lain, Miri menuangk
Read more