“Selamat malam, Miri. Silakan masuk,” sapa Seno dengan senyum mengembang.Pria paruh baya itu menahan pintu, menunggu Miri melangkah masuk. Di luar, langit kelabu bergemuruh. Untung saja Miri memutuskan untuk berangkat lebih awal.“Ini aku bawain torta, Om,” ujar Miri, mengangkat kotak makanan yang ia bawa di satu tangan.“Wah, terima kasih, Mir. Pas banget aku lagi ingin makan yang manis-manis,” sahut Seno.Ia hendak meraih kantung kertas yang Miri bawa di tangan lain, tapi wanita itu mengelak.“Yang ini … spesial buat Mama,” Miri beralasan.Seno mengerti. Ia mengajak Miri masuk lebih dalam, di mana meja makan telah penuh oleh hidangan yang Seno siapkan.“Gimana persiapan untuk ke Itali? Ada kendala? Kalau ada masalah dengan visa, kasih tahu aku aja,” ucap Seno, meletakkan kue yang ia bawa di meja.“Hari ini aku baru memasukkan visa. Mudah-mudahan sih nggak ada kendala. Kendalanya cuma satu,” bisik Miri, menunjuk Bu Sara yang baru saja turun dari tangga.Seno menggeleng pelan.“Sabar
Read more