Cahaya matahari masih enggan menaungi lorong kamarnya pagi itu, membuat suasana begitu sendu dan hening. Ketika Miri melangkah keluar dari kamar, penghuni rumah lainnya belum menghidupkan rumah Seno.Pagi itu, Miri bangun lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan pakaiannya kemarin, membawa tas di bahu. Jaketnya tersampir di lengan.“Miri? Udah mau berangkat?” Suara itu berasal dari tangga. Sara, masih mengenakan piyama dan jubah tidurnya, menyapa Miri. Niat Miri untuk pergi diam-diam batal di tengah jalan.“Iya, Ma. Aku mau ngejar bus pagi, biar nggak terlambat sampai restoran,” jawab Miri.“Kamu udah sarapan?” tanya Sara.Miri menggeleng.Sara menengok jam dinding, yang masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.“Kamu masuk jam 9, kan? Masih cukup lah waktunya. Mama buatin sarapan sebentar, ya? Mau roti panggang? Atau telur?” tawar Sara.Miri tercengang. Meski ada ‘sara’ dalam sarapan, Miri dapat menghitung dengan jari berapa kali Sara hadir di pagi hari untuk menemaninya makan sebel
Read more