“Miri, makan dulu, yuk, Sayang. Ini Kemal, loh, yang masak,” rayu lembut Bu Sara, mendekati putrinya untuk ketiga kali hari itu.Miri masih duduk di sudut ruangan, memeluk kakinya erat ke arah dada. Dari kejauhan, ia tampak seperti bongkahan batu hitam yang berdiam tanpa nyawa. Wajahnya pucat, rambutnya tergerai pancang dalam balutan pasmina.Ia menggeleng, ketika Bu Sara menawarkan semangkuk sup daging ke depan wajahnya. Aromanya gurih, dengan kuah bening dan potongan daging yang menggoda selera. Bagi Miri, isi mangkuk itu tak ada artinya.“Kalau nggak makan, kamu sakit, Miri. Yuk, sesuap aja,” ucap Bu Sara, menyodorkan sendok berisi kuah daging ke bibir putrinya.Namun, Miri mengelak. Ia menutup mulutnya dengan tangan. Bu Sara menyerah.
Read more