“Ngapain kamu di sini?” celetuk Wisnu, muncul dari balik punggung Arman.Arman menoleh, melihat seniornya berjalan mendekat. Tanpa kata, ia kembali mengamati pemandangan kota Jakarta dari rooftop kantor Arkate.Teriknya matahari memanggang puncak kepala, tapi Arman masih betah berlama-lama di tempatnya bersandar. Sikunya bertumpu pada puncak parapet setinggi dada. Angin yang panas menerpa wajahnya, menjaga kesadaran Arman.“Nggak ngapa-ngapain. Lagi santai aja,” jawab Arman santai.Saat berdiri di sisi Arman, Wisnu membuka sekaleng kopi dingin di tangan. Ia meletakkan satu kaleng lagi yang masih utuh di dekat lengan Arman.Dari sudut matanya, Arman tahu Wisnu sedang memindai perangainya. Saat Arman bersiap menerima gerutunya, Wisnu justru turut memandang kaki langit Jakarta. Gedung-gedung tinggi muncul seperti menara pertahanan, menghalangi pandangan mereka dari keteduhan kota yang mulai jarang.“Kayaknya bakal ujan, nih.”Wisnu mendongak, memandang barisan awan putih yang membentang
Read more