Rina hanya menghela napas panjang, menatap punggung Sari yang menghilang di ujung lorong dengan langkah tergesa-gesa. Ia mengusap dadanya yang terasa sedikit sesak, lalu menggeleng pelan. Bukan urusanku, batinnya tegar. Biarkan semuanya berjalan sesuai takdirnya. Biarkan Dimas, mantan suami yang dulu begitu dzalim menyakiti hatiku, menerima balasan setimpal dari setiap tetes air mata yang pernah ia tumpahkan padaku dulu. Ia tidak membenci, tidak pula ingin membalas dendam. Rina hanya pasrah, percaya bahwa keadilan Tuhan selalu datang pada waktunya, tanpa perlu ia menuntutnya sendiri. Dengan langkah tenang, ia kembali menyusuri lorong menuju ruang utama, menyisakan rahasia besar itu tersimpan rapat di dalam hatinya. Suasana di dalam ballroom kini semakin meriah dan gemuruh. Musik yang tadinya mengalun lembut kini beralih menjadi irama yang lebih megah, disambut tepuk tangan meriah dari ratusan tamu undangan. Pembawa acara berdiri tegak di tengah panggung, senyum lebar mengembang di
Read more