"Jangan bergerak atau pisau ini akan merobek lehermu dalam hitungan detik!" ancam Vanya dengan nada dingin yang menekan, jemarinya memegang erat gagang pisau di leher Rangga."Coba saja kalau kau berani," sahut Rangga dengan tenang, meski posisi dadanya tertekan kuat di atas meja kayu tebal tersebut."Kau pikir aku bercanda, Bocah?!" geram Vanya, makin menekan mata pisau baja itu hingga menempel di kulit leher Rangga. "Satu gerakan kecil saja, dan darahmu akan membasahi meja ini!""Lepaskan dia, Vanya! Dialah yang kalian cari, bukan?!" teriak Madam Beatrice dari kursinya dengan suara bergetar panik. "Jangan bunuh dia!""Diam, Tua Bangkai!" gertak Vanya tanpa menoleh.Namun, saat Vanya mendekatkan wajahnya untuk mengintimidasi Rangga lebih jauh, napasnya yang memburu mendadak terhenti. Dari jarak yang sangat dekat ini, napas Vanya menghirup aroma maskulin yang begitu jelas, hangat, dan murni dari tubuh Rangga. Feromon alami yang terpancar dari kulit Rangga menguar, menembus indra pe
Read more