Baru beberapa langkah Shaluna keluar dari restoran, hawa sejuk dari pendingin ruangan berganti dengan udara luar Senopati yang gerah. Tepat saat ia hendak memesan taksi daring melalui ponselnya, layar benda pipih itu berubah.Sebuah panggilan masuk. Nama yang tertera di sana seketika membuat rahang Shaluna mengeras.Ibu.Jemari Shaluna sempat tertahan di atas layar. Rasa enggan dan sesak mendadak berlomba naik ke dadanya. Bayangan tiga tahun pernikahan di mana wanita tua itu selalu mendikte hidupnya, mengkritik kekurangannya sebagai istri, dan menuntut keturunan tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di kamar tidur mereka, membuat Shaluna muak.Namun, alih-alih menghindar seperti biasanya, Shaluna menggeser tombol hijau. Dia tidak ingin lari lagi."Ya, Bu," ucap Shaluna, suaranya terdengar datar dan dingin."Kamu di mana, Luna?" Suara di seberang sana langsung terdengar dengan nada tinggi yang menuntut, tanpa ada basa-basi menanyakan kabar. "Ibu telepon ke rumah, pemba
Terakhir Diperbarui : 2026-07-16 Baca selengkapnya