Keiran menyeka sisa keringat yang membasahi kening dan rahangnya dengan punggung tangan. Napasnya berangsur teratur, sisa dominasi masih tertinggal pekat di dalam kamar yang temaram itu. Ia mengubah posisinya miring, menumpu kepala dengan satu tangan sambil menatap lekat-lekat ke arah Shaluna yang masih terengah di sampingnya.Tatapan Keiran jatuh pada perut rata Shaluna yang naik-turun memburu, tempat di mana kehangatannya baru saja ditinggalkan di dalam sana tanpa penghalang."Kamu ingin hamil, saya beri peluangnya," ucap Keiran datar.Perkataan itu seketika memutus pasokan udara di paru-paru Shaluna. Realitas menghantam kepalanya dengan begitu keras hingga ia langsung menarik selimut, membungkus tubuh polosnya yang gemetar. Matanya melebar penuh kepanikan."Mas, gak gitu! Aku istri orang, apa yang bakal ibu omongin kalo tahu—""Maria gak akan tahu, kalo pun tahu, saya urus," potong Keiran cepat. Nada suaranya tidak meninggi, tapimutlak dan tak terbantahkan. Seolah menyebut
Terakhir Diperbarui : 2026-07-05 Baca selengkapnya