Kalimat Keiran baru saja menggantung di udara ketika Shaluna mendongak. Di bawah temaram lampu dasbor, sepasang mata wanita itu tidak lagi memancarkan kerapuhan yang menyedihkan. Melainkan kekosongan yang teramat dalam. Ruang hampa yang menuntut untuk segera diisi.Sebelum Keiran sempat memindahkan tangannya ke kemudi, Shaluna bergerak maju. Ia mencengkeram kerah kemeja Keiran dengan sisa tenaganya, menarik pria itu mendekat, dan langsung membungkam bibirnya.Ciuman itu datang tiba-tiba, kasar, dan penuh keputusasaan. Tidak ada kelembutan di dalamnya. Shaluna meluapkan seluruh rasa sakit, amarah, dan penghinaan yang baru saja ia telan dari Ragan ke dalam pagutan tersebut. Ia menggigit bibir Keiran, bergerak liar seolah sedang berusaha menghapus seluruh memori tentang penolakan Ragan selama tiga tahun ini dari kepalanya.Keiran terenyak sesaat, tubuhnya menegang di balik kemudi. Namun, itu hanya bertahan beberapa detik. Detik berikutnya, insting pria itu mengambil alih. Tangan b
Terakhir Diperbarui : 2026-07-11 Baca selengkapnya