Keiran mematung sejenak, menatap lekat-lekat wajah Shaluna yang pucat. Tangannya masih menempel hangat di atas perut perempuan itu, merasakan getaran halus yang membisu."Besok kita ke dokter," kata Keiran rendah, suaranya tenang tapi sarat perintah yang tak terstruktur. "Saya atur jadwal privat."Shaluna menggeleng pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa tenaganya untuk menolak."Jangan dulu, Mas," jawab Shaluna lirih, matanya menatap Keiran dengan rasa lelah yang teramat sangat. "Nanti aja, kalau aku udah siap."Keiran menyipitkan mata, mengamati keraguan yang membayang jelas di manik mata Shaluna."Kamu takut?"Shaluna diam. Ia memalingkan wajahnya sedikit, menunduk menatap jemarinya yang saling bertaut kaku di atas pangkuan.Keiran menghembuskan napas pelan dari hidungnya. Tatapannya yang biasa mendominasi perlahan melunak, menyisakan keheningan yang dalam di antara mereka berdua. Jemarinya naik, mengusap rahang Shaluna dengan amat lembut sebelum menarik pe
Last Updated : 2026-07-24 Read more