“Mas, sedikit lagi.” Mata perempuan itu mencelang ke atas. Tangannya meremas kain sprei kuat-kuat. Sementara ujung-ujung kakinya menekuk, meningkahi gejolak kepuasan yang sebentar lagi sampai. “Iya, lebih cepat, Mas, tolong, sebentar lagi.”Sementara seseorang yang berada di antara kedua pahanya terus mendesak. Melesakkan lidahnya, menghisap kewanitaannya dengan beringas. Hingga…“Mas H-Hen—A-aaggh!” Tubuhnya melenting, lalu bergetar hebat, bersamaan dengan itu sesuatu yang terasa hangat meleleh melewati celah pahanya. Dadanya naik turun, napasnya memburu, tapi senyumnya mengembang penuh kepuasan. Kembali dia menatap pria di hadapannya dengan tatapan sayu. “Terima kasih, Mas.” Dengan kasar pria itu mendorong tubuhnya menjauh. Tangan besarnya mengusap mulutnya yang basah lalu segera menyingkir. “Ka-kamu mau kemana, Mas? Kamu bahkan belum melakukannya.” Setengah bangun wanita itu panik ketika suaminya mengenakan piyama alih-alih menyatukan dirinya. “Kamu pikir aku sudi menidurim
Última actualización : 2026-09-15 Leer más