“Gestadi Priyadi?” Brina menggeliat lantas mengubah posisi tidur menyamping. Memunggungi Rafli. Pria itu berisik. Lagi pula siapa sih sepagi ini sudah menelpon? Rafli menyingkap selimut, dan bergerak bangun, serta duduk di pinggiran ranjang, memasang wajah serius, mendengar cerita Wima di seberang sana. “Aneh, padahal di sosmed dia terlihat sering melakukan kunjungan ke yayasan panti asuhan dan sejenisnya. Dengar-dengar dia juga founder Pelita Kasih, tempat di mana para lansia dirawat.” “Pintar dia menyembunyikan boroknya,” sahut Wima di sana. “Cari kelemahannya, dan jadikan itu senjata agar dia mau mengembalikan hak Jeevi dan Iren Priyadi.” “Baik, Pak.” Sudut mata Rafli melirik nakas. Pukul enam pagi dan yang menyebalkan ini weekend. Masih saja ada pekerjaan. Setelah panggilan berakhir, pria itu bangkit. Meraih rokok elektrik dan berjalan ke balkon. Kaki jenjangnya menyilang, sementara punggungnya dia sandarkan di pembatas balkon. Dari sini, dia bisa melihat punggung mulus
Last Updated : 2026-09-23 Read more