Masuk"Ambil tasmu," perintah Oliver tanpa basa-basi.
"Apa?" Avery mengerjapkan mata, menghalau serpihan es yang mulai menempel di bulu matanya.
"Kemasi pakaian, sikat gigi, atau apa pun yang kamu butuhkan untuk dua hari ke depan."
"Aku tidak akan ikut denganmu," tegas Avery, mencoba menancapkan kedua kakinya kuat-kuat ke lantai teras. "Aku berterima kasih kamu sudah memperbaiki pagar ini. Tapi aku tetap di sini. Ini rumahku."
Oliver menatapnya lama sekali. Hujan yang turun semakin menderu, perlahan berubah menjadi serpihan es padat seiring suhu udara yang merosot tajam. Lapisan es tipis bahkan mulai mengristal di lengan jaket Avery.
"Kamu keras kepala," ujar Oliver datar.
"Aku memang harus begitu."
"Kekeraskepalaan bisa membunuhmu di gunung ini." Oliver melangkah maju, kembali mengikis jarak di antara mereka. "Aku tidak sedang meminta izin, Avery. Jalur pendakian ini akan ditutup total dalam satu jam. Begitu badai salju turun, tidak ada satu orang pun yang bisa keluar dari lembah ini selama berhari-hari. Kalau kamu nekat bertahan di sini tanpa penghangat, kamu tidak akan pernah bangun lagi besok pagi."
Kata-kata itu menggantung berat. Avery menoleh, memandangi kabinnya yang gelap gulita. Atapnya melengkung ringkih, dan cerobong asapnya rusak. Dia teringat malam sebelumnya—saat harus meringkuk di bawah empat lapis selimut, melihat napasnya mengkristal di udara, dan mendengarkan raungan angin yang menyelinap dari celah dinding. Malam itu dia ketakutan setengah mati.
Avery kembali menatap Oliver. Pria itu memang asing, bertubuh raksasa seperti beruang grizzly yang muncul dari kegelapan. Namun, sepasang mata hijau lumut itu terasa kokoh dan tak tergoyahkan.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Avery, suaranya melembut ditelan angin.
"Oliver. Oliver Gunnar."
Nama belakang itu membuat Avery tersentak. Keluarga Gunnar. Dia ingat desas-desus para tetua di toko bangunan kota. Keluarga yang menguasai seluruh wilayah pegunungan ini dengan hukum mereka sendiri. Penduduk setempat membicarakan mereka dengan perpaduan antara rasa takut dan hormat yang besar.
"Kamu... salah satu dari mereka," gumam Avery.
"Akulah orang yang akan memastikannya kamu tetap bernapas malam ini," sahut Oliver dingin. "Sekarang, ambil tasmu."
Naluri bertahan hidup Avery tengah berperang hebat dengan akal sehat. Logikanya memperingatkan bahaya mengikutinya, tetapi rasa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang berteriak jauh lebih nyaring. Dan di balik itu semua, ada tarikan magnetis yang kuat ke arah pria ini. Avery merasa jauh lebih aman dengan Oliver di dekatnya, ketimbang mengunci diri di kabin ini sendirian.
"Kenapa kamu peduli?" tanyanya pelan. "Aku cuma gadis kota yang bodoh."
Oliver menatapnya tajam. Pandangannya bergerak turun, tertahan di bibir Avery selama sepersekian detik sebelum kembali mengunci matanya. "Karena saat ini kamu berada di gunungku. Dan aku selalu menjaga apa yang menjadi milikku."
Kalimat itu memicu debaran yang sama sekali bukan karena faktor cuaca dingin. Cara Oliver mengatakannya terasa sangat personal dan posesif.
Oliver mendongak menatap langit yang mulai berubah warna menjadi ungu kebiruan pekat. "Lima menit, Avery. Atau aku sendiri yang akan menggotongmu keluar dari sini di atas pundakku."
Gurat wajahnya menegang kaku. Pria ini tidak sedang bercanda. Dia benar-benar akan melempar tubuh Avery ke pundak lebarnya seolah sekarung pakan ternak.
"Baiklah!" ketus Avery sembari berbalik ke arah pintu. "Tapi ini kulakukan semata-mata karena aku tidak mau mati membeku."
Avery mendorong pintu dan melangkah masuk ke dalam kabin yang membeku. Udara lembap seolah terperangkap di antara dinding kayu. Dengan jemari yang kaku dan mati rasa, dia menyambar ransel di lantai, menjejalkan beberapa potong celana jins, sweter wol tebal, dan foto ibunya yang berdebu dari atas rak perapian.
Saat dia berbalik, sosok Oliver sudah berdiri tegak di ambang pintu. Tubuh besarnya memenuhi seluruh bingkai, menghalangi sisa cahaya sore dan badai di luar. Mata hijau itu memperhatikannya berkemas dengan intensitas yang membuat atmosfer di sekitarnya mendadak berdesir pekat. Oliver sedang berjaga, memastikan Avery tidak melarikan diri.
"Sudah siap?"
"Sebisa yang kubisa," sahut Avery sambil menyampirkan tali tas ke bahu.
Avery melangkah mendekat. Oliver tidak menggeser tubuhnya sama sekali. Mau tidak mau, Avery harus menyelip di antara celah lengannya untuk bisa keluar. Untuk satu detik yang bergerak lambat, tubuh mereka bergesekan erat. Dada Oliver sekeras dinding batu, dan hawa panas dari tubuh pria itu langsung menembus berlapis-lapis pakaian tebal Avery.
Oliver mengikutinya keluar, lalu membanting pintu hingga terkunci rapat. "Tetap di dekatku. Jalan setapaknya sudah mulai membeku."
Tanpa menunggu jawaban, Oliver melangkah lebar menerobos kegelapan hutan tanpa menoleh ke belakang. Dia tahu Avery pasti akan mengekor di belakangnya. Dia tahu dia telah memenangkan perdebatan ini.
Avery berjalan tertatih-tatih, menghentakkan sepatu botnya yang tenggelam ke dalam tanah berlumpur yang mulai mengeras. Kanopi pohon pinus raksasa sedikit menghalangi hantaman hujan es, menciptakan terowongan alami yang sunyi dan gelap gulita. Avery menatap punggung lebar di depannya, memperhatikan otot-otot kokoh Oliver yang bergerak dinamis di balik jaket kanvas tebal.
Ini tindakan yang gegabah. Ini gila. Namun, saat Avery memandangi punggung Oliver yang konsisten menerobos badai—dengan sengaja mematahkan ranting-ranting pohon yang melintang agar tidak mengenai wajah Avery—dia menyadari satu kenyataan baru yang teramat menakutkan.
Avery sama sekali tidak takut pada pria ini. Dia justru takut pada seberapa besar keinginannya untuk terus berjalan mengikutinya.
Oliver tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik mendadak. Avery hampir saja menabrak dada bidang itu jika tidak segera mengerem kakinya di atas tanah licin.
"Berikan tasmu," kata Oliver pendek.
"Aku masih kuat membawanya sendiri," protes Avery defensif.
Pria itu tidak membalas argumennya. Dia mengulurkan tangan, langsung menarik tali ransel dari bahu Avery tanpa kesulitan. Ujung jemarinya yang kasar sempat menyentuh lengan Avery—sebuah tekanan lambat yang meninggalkan jejak panas membakar di kulitnya yang beku. Oliver menyampirkan tas itu ke bahunya sendiri seolah beban ransel itu tidak ada bobotnya sama sekali.
"Ikuti langkahku, Burung Kecil," ucap Oliver pelan, suaranya melembut secara tidak terduga di tengah kegelapan. "Kita hampir sampai ke rumah."
Samuel tidak bergerak dari ambang pintu.Tangannya masih bertumpu pada dinding batu tua.Di dalam bangunan, dokumen-dokumen berserakan di atas meja.Di luar, matahari perlahan turun di balik pegunungan.Tidak ada yang berbicara.Karena kalimat terakhir Samuel masih menggantung di udara."Nathaniel tidak pernah ingin kalian melihat ini."Logan memecah keheningan lebih dulu."Aku mulai bosan mendengar kalimat itu."Samuel tidak menoleh."Bagus.""Apa?""Berarti kau mulai merasakan yang kurasakan selama empat puluh tahun."Oliver menghela napas pelan."Itu bukan jawaban.""Bukan."Samuel menyentuh salah satu rak kayu yang nyaris roboh."Jawabannya jauh lebih buruk."Keheningan kembali turun.Avery melihat sesuatu tergeletak di bawah rak yang miring.Bukan kotak.Bukan map.Sebuah papan kayu kecil.Sudutnya patah.Tertutup debu.Ia membungkuk dan mengambilnya.Debu beterbangan saat papan itu dibalik.Tulisan pudar mulai terlihat.KEPUTUSAN REGISTRASI TANAHDi bawahnya terdapat beberapa ta
Langkah terakhir Samuel berhenti tepat di batas lereng berbatu.Tidak ada pagar.Tidak ada gerbang.Tidak ada tanda peringatan.Hanya deretan pinus tua yang tumbuh terlalu rapat, seolah alam sendiri berusaha menyembunyikan sesuatu.Angin sore bergerak pelan.Tak seorang pun berbicara.Karena setelah bertahun-tahun menjadi rumor, dokumen, dan rahasia...Site B kini berada tepat di depan mereka.Tristan bergerak lebih dulu.Ia menyingkirkan cabang-cabang yang menutupi jalan sempit di antara pepohonan.Logan mengikuti di belakangnya.Kemudian Avery.Oliver.Chase.Austin.Samuel berjalan paling akhir.Dan itu sendiri terasa aneh.Seolah pria tua itu sedang menunda sesuatu.Jalan setapak itu terus menurun.Semakin jauh mereka masuk, semakin jelas bahwa tempat ini pernah digunakan manusia.Bukan sekali dua kali.Melainkan selama bertahun-tahun.Avery melihat batu-batu yang sengaja disusun.Tiang kayu yang hampir membusuk.Bekas pondasi."Bukan gua."gumam Austin."Bukan.""Bukan bunker jug
Hujan berhenti menjelang pagi.Namun ketegangan di dalam kabin Nolan tidak ikut reda.Semalam tidak ada keputusan.Tidak ada kesepakatan.Hanya percakapan yang berubah menjadi perdebatan.Dan perdebatan yang berubah menjadi keheningan.Avery terbangun lebih dulu.Buku para penjaga masih terbuka di atas meja.Halaman dengan secarik catatan tua masih berada di tempat yang sama.Rahasia ini tidak diciptakan untuk disimpan.Tetapi juga tidak diciptakan untuk dimiliki.Ia membaca kalimat itu sekali lagi.Kemudian menutup buku tersebut.Ketika keluar ke beranda, ia menemukan Oliver sudah berada di sana.Secangkir kopi mengepul di tangannya.Tatapannya tertuju ke pegunungan."Kau juga tidak tidur?"tanya Avery."Tidur."jawab Oliver."Kau berbohong.""Kau terlalu mengenalku."Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri berdampingan.Memandang Grizzly Peak yang perlahan mulai diterangi matahari pagi."Apa yang kau pikirkan?"tanya Avery.Oliver tidak langsung menjawab."Aku memikirkan Nathaniel.
Pintu markas Broken Halos masih terbuka ketika suara mesin SUV Richard akhirnya menghilang dari jalan utama.Tidak ada yang bergerak.Tidak ada yang berbicara.Hanya bunyi jam dinding tua yang terdengar dari sudut ruangan.Tick.Tick.Tick.Austin yang pertama memecah keheningan."Aku benci kalau dia melakukan itu."Logan masih berdiri menghadap pintu."Apa?""Datang."Austin menunjuk keluar."Mengatakan sesuatu yang mengganggu."Lalu menunjuk kepalanya sendiri."Kemudian pergi."Keheningan tetap bertahan.Karena kali ini Richard berhasil.Ia meninggalkan sesuatu.Keraguan.Logan berbalik.Tangannya bertumpu pada meja."Kita tidak mengubah rencana."Samuel yang sedang duduk dekat jendela mengangkat alis."Rencana yang mana?""Menjauh dari Site B."Samuel tertawa pendek."Itu bukan rencana.""Itu keputusan Nathaniel.""Nathaniel sudah meninggal."Ruangan langsung sunyi.Avery melihat rahang Logan mengeras.Kalimat itu mungkin benar.Tetapi tetap terdengar salah."Nathaniel meninggalkan
Suara mesin kendaraan terdengar bahkan sebelum mereka melihatnya.Dalam kota kecil seperti Grizzly Peak, suara itu cukup untuk membuat beberapa kepala menoleh.Dan cukup untuk membuat Logan berhenti berbicara.Mereka sedang berada di markas Broken Halos ketika suara itu mendekat.Austin yang sedang bermain kartu langsung menengok ke jendela.Chase meletakkan cangkir kopinya.Tristan mengangkat kepala.Tidak ada yang berkata apa-apa.Namun ruangan perlahan menjadi sunyi.Karena semua orang mengenali kendaraan itu.SUV hitam."Astaga."gumam Austin.Logan sudah berdiri sebelum kendaraan itu sepenuhnya berhenti.Pintu terbuka.Seseorang turun.Bukan karena mereka melihat wajahnya.Belum.Tetapi karena reaksi Logan.Rahangnya mengeras.Oliver yang sedang berdiri dekat meja langsung bergerak sedikit ke depan.Bukan agresif.Refleks.Austin mengembuskan napas."Oh bagus."Pintu markas terbuka.Richard Hale masuk.Namun ada sesuatu yang berbeda hari ini.Tidak ada senyum santai.Tidak ada ma
Kabut masih menggantung di antara pepohonan ketika Samuel mengetuk pintu kabin.Tiga ketukan.Tidak lebih.Tidak kurang.Avery membuka pintu.Samuel sudah berdiri di beranda.Mengenakan jaket tua yang sama.Topi yang sama.Dan ekspresi yang membuatnya terlihat seperti seseorang yang lebih suka berada di tempat lain."Ada apa?"tanya Avery.Samuel tidak menjawab.Ia hanya berbalik dan mulai berjalan menuju truk tua yang terparkir di depan kabin."Samuel."Pria tua itu berhenti."Kau mau ikut atau tidak?"Itu bukan undangan.Lebih mirip tantangan.Dari dalam rumah, Oliver muncul.Tatapannya langsung berpindah dari Samuel ke Avery."Ke mana?"Samuel membuka pintu truk."Jalan-jalan.""Aku tidak percaya itu."kata Oliver."Itu karena kau punya insting yang sehat."Keheningan singkat.Samuel menunjuk kursi penumpang."Avery."Oliver melangkah maju."Aku ikut.""Tidak."Jawaban Samuel datang terlalu cepat.Rahang Oliver mengeras."Kenapa?"Samuel membuka pintu truk lebih lebar."Karena kali







