分享

Hukum Gunung

last update publish date: 2026-06-25 20:02:53

"Ambil tasmu," perintah Oliver tanpa basa-basi.

"Apa?" Avery mengerjapkan mata, menghalau serpihan es yang mulai menempel di bulu matanya.

"Kemasi pakaian, sikat gigi, atau apa pun yang kamu butuhkan untuk dua hari ke depan."

"Aku tidak akan ikut denganmu," tegas Avery, mencoba menancapkan kedua kakinya kuat-kuat ke lantai teras. "Aku berterima kasih kamu sudah memperbaiki pagar ini. Tapi aku tetap di sini. Ini rumahku."

Oliver menatapnya lama sekali. Hujan yang turun semakin menderu, perlahan berubah menjadi serpihan es padat seiring suhu udara yang merosot tajam. Lapisan es tipis bahkan mulai mengristal di lengan jaket Avery.

"Kamu keras kepala," ujar Oliver datar.

"Aku memang harus begitu."

"Kekeraskepalaan bisa membunuhmu di gunung ini." Oliver melangkah maju, kembali mengikis jarak di antara mereka. "Aku tidak sedang meminta izin, Avery. Jalur pendakian ini akan ditutup total dalam satu jam. Begitu badai salju turun, tidak ada satu orang pun yang bisa keluar dari lembah ini selama berhari-hari. Kalau kamu nekat bertahan di sini tanpa penghangat, kamu tidak akan pernah bangun lagi besok pagi."

Kata-kata itu menggantung berat. Avery menoleh, memandangi kabinnya yang gelap gulita. Atapnya melengkung ringkih, dan cerobong asapnya rusak. Dia teringat malam sebelumnya—saat harus meringkuk di bawah empat lapis selimut, melihat napasnya mengkristal di udara, dan mendengarkan raungan angin yang menyelinap dari celah dinding. Malam itu dia ketakutan setengah mati.

Avery kembali menatap Oliver. Pria itu memang asing, bertubuh raksasa seperti beruang grizzly yang muncul dari kegelapan. Namun, sepasang mata hijau lumut itu terasa kokoh dan tak tergoyahkan.

"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Avery, suaranya melembut ditelan angin.

"Oliver. Oliver Gunnar."

Nama belakang itu membuat Avery tersentak. Keluarga Gunnar. Dia ingat desas-desus para tetua di toko bangunan kota. Keluarga yang menguasai seluruh wilayah pegunungan ini dengan hukum mereka sendiri. Penduduk setempat membicarakan mereka dengan perpaduan antara rasa takut dan hormat yang besar.

"Kamu... salah satu dari mereka," gumam Avery.

"Akulah orang yang akan memastikannya kamu tetap bernapas malam ini," sahut Oliver dingin. "Sekarang, ambil tasmu."

Naluri bertahan hidup Avery tengah berperang hebat dengan akal sehat. Logikanya memperingatkan bahaya mengikutinya, tetapi rasa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang berteriak jauh lebih nyaring. Dan di balik itu semua, ada tarikan magnetis yang kuat ke arah pria ini. Avery merasa jauh lebih aman dengan Oliver di dekatnya, ketimbang mengunci diri di kabin ini sendirian.

"Kenapa kamu peduli?" tanyanya pelan. "Aku cuma gadis kota yang bodoh."

Oliver menatapnya tajam. Pandangannya bergerak turun, tertahan di bibir Avery selama sepersekian detik sebelum kembali mengunci matanya. "Karena saat ini kamu berada di gunungku. Dan aku selalu menjaga apa yang menjadi milikku."

Kalimat itu memicu debaran yang sama sekali bukan karena faktor cuaca dingin. Cara Oliver mengatakannya terasa sangat personal dan posesif.

Oliver mendongak menatap langit yang mulai berubah warna menjadi ungu kebiruan pekat. "Lima menit, Avery. Atau aku sendiri yang akan menggotongmu keluar dari sini di atas pundakku."

Gurat wajahnya menegang kaku. Pria ini tidak sedang bercanda. Dia benar-benar akan melempar tubuh Avery ke pundak lebarnya seolah sekarung pakan ternak.

"Baiklah!" ketus Avery sembari berbalik ke arah pintu. "Tapi ini kulakukan semata-mata karena aku tidak mau mati membeku."

Avery mendorong pintu dan melangkah masuk ke dalam kabin yang membeku. Udara lembap seolah terperangkap di antara dinding kayu. Dengan jemari yang kaku dan mati rasa, dia menyambar ransel di lantai, menjejalkan beberapa potong celana jins, sweter wol tebal, dan foto ibunya yang berdebu dari atas rak perapian.

Saat dia berbalik, sosok Oliver sudah berdiri tegak di ambang pintu. Tubuh besarnya memenuhi seluruh bingkai, menghalangi sisa cahaya sore dan badai di luar. Mata hijau itu memperhatikannya berkemas dengan intensitas yang membuat atmosfer di sekitarnya mendadak berdesir pekat. Oliver sedang berjaga, memastikan Avery tidak melarikan diri.

"Sudah siap?"

"Sebisa yang kubisa," sahut Avery sambil menyampirkan tali tas ke bahu.

Avery melangkah mendekat. Oliver tidak menggeser tubuhnya sama sekali. Mau tidak mau, Avery harus menyelip di antara celah lengannya untuk bisa keluar. Untuk satu detik yang bergerak lambat, tubuh mereka bergesekan erat. Dada Oliver sekeras dinding batu, dan hawa panas dari tubuh pria itu langsung menembus berlapis-lapis pakaian tebal Avery.

Oliver mengikutinya keluar, lalu membanting pintu hingga terkunci rapat. "Tetap di dekatku. Jalan setapaknya sudah mulai membeku."

Tanpa menunggu jawaban, Oliver melangkah lebar menerobos kegelapan hutan tanpa menoleh ke belakang. Dia tahu Avery pasti akan mengekor di belakangnya. Dia tahu dia telah memenangkan perdebatan ini.

Avery berjalan tertatih-tatih, menghentakkan sepatu botnya yang tenggelam ke dalam tanah berlumpur yang mulai mengeras. Kanopi pohon pinus raksasa sedikit menghalangi hantaman hujan es, menciptakan terowongan alami yang sunyi dan gelap gulita. Avery menatap punggung lebar di depannya, memperhatikan otot-otot kokoh Oliver yang bergerak dinamis di balik jaket kanvas tebal.

Ini tindakan yang gegabah. Ini gila. Namun, saat Avery memandangi punggung Oliver yang konsisten menerobos badai—dengan sengaja mematahkan ranting-ranting pohon yang melintang agar tidak mengenai wajah Avery—dia menyadari satu kenyataan baru yang teramat menakutkan.

Avery sama sekali tidak takut pada pria ini. Dia justru takut pada seberapa besar keinginannya untuk terus berjalan mengikutinya.

Oliver tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik mendadak. Avery hampir saja menabrak dada bidang itu jika tidak segera mengerem kakinya di atas tanah licin.

"Berikan tasmu," kata Oliver pendek.

"Aku masih kuat membawanya sendiri," protes Avery defensif.

Pria itu tidak membalas argumennya. Dia mengulurkan tangan, langsung menarik tali ransel dari bahu Avery tanpa kesulitan. Ujung jemarinya yang kasar sempat menyentuh lengan Avery—sebuah tekanan lambat yang meninggalkan jejak panas membakar di kulitnya yang beku. Oliver menyampirkan tas itu ke bahunya sendiri seolah beban ransel itu tidak ada bobotnya sama sekali.

"Ikuti langkahku, Burung Kecil," ucap Oliver pelan, suaranya melembut secara tidak terduga di tengah kegelapan. "Kita hampir sampai ke rumah."

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Nama di Balik Kode

    Logan tiba kurang dari lima menit kemudian.Itu saja sudah cukup menjadi tanda bahwa situasinya serius.Biasanya pria itu akan menyelesaikan apa pun yang sedang dia kerjakan terlebih dahulu sebelum merespons panggilan siapa pun. Namun kali ini pintu ruang arsip langsung terbuka dengan hentakan keras."Apa yang kalian temukan?"Tatapannya berpindah dari Oliver ke Avery.Lalu ke tumpukan dokumen yang memenuhi meja.Avery menggeser beberapa lembar kertas ke arahnya."Ini."Logan mengambil berkas teratas.Keheningan langsung memenuhi ruangan.Satu halaman.Dua halaman.Tiga halaman.Semakin lama dia membaca, semakin dalam kerutan yang muncul di dahinya."Kenapa aku baru melihat ini sekarang?" gumamnya."Karena tidak ada yang pernah mencarinya," jawab Avery.Logan mengangkat kepala."Itu bukan jawaban yang kusukai.""Tapi itu benar."Oliver tetap berdiri di samping Avery.Diam.Mengamati.Menunggu.Seperti biasa.Logan membolak-balik halaman berikutnya."SV-17..."Jarinya mengetuk salah sa

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Pagi Setelah Badai

    Untuk pertama kalinya sejak tiba di Grizzly Peak, Avery terbangun tanpa suara angin yang menghantam dinding kabin.Keheningan menyelimuti lereng gunung.Bukan keheningan yang dingin.Bukan keheningan yang sepi.Melainkan jenis keheningan yang hanya muncul setelah badai akhirnya menyerah.Avery membuka mata perlahan. Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai, menyinari kamar tidur dengan warna keemasan yang lembut. Di sampingnya, tempat tidur sudah kosong.Sisi kasur milik Oliver masih hangat.Sebuah senyum kecil muncul di wajah Avery.Beberapa hal ternyata tidak pernah berubah.Oliver selalu bangun lebih dulu.Selalu.Avery mengenakan sweter tebal dan berjalan keluar menuju ruang utama kabin.Aroma kopi langsung menyambutnya.Bersama aroma kayu pinus.Dan suara dentingan logam.Oliver berdiri di dekat meja kerja kecil yang berada di samping jendela. Punggung lebarnya membelakangi ruangan saat ia membongkar salah satu engsel pintu yang tampaknya sama sekali tidak bermasalah.Avery menya

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Warisan yang Terkubur

    Angin sore menerpa halaman markas Broken Halos saat Avery melangkah turun dari truk Oliver.Kalimat Logan masih bergema di dalam kepalanya."...ada kemungkinan pamammu mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kabin reyot itu."Avery mengikuti Logan masuk ke dalam bangunan utama. Aroma kopi, asap kayu, dan kulit tua memenuhi udara. Suasana di dalam jauh lebih tenang dibanding penampilan para penghuninya yang selalu tampak siap menghadapi perang.Austin sedang bersandar di meja panjang sambil memegang secangkir kopi.Chase duduk di dekat jendela.Tristan berdiri di belakang ruangan dengan kedua tangan terlipat.Tak seorang pun tampak sedang bercanda.Itu saja sudah cukup membuat Avery gugup."Baik," kata Austin sambil meletakkan cangkirnya. "Kalau semua orang sudah di sini, mari kita membuat hidup jadi sedikit lebih rumit.""Berhenti bicara dan tunjukkan," geram Oliver.Austin menyeringai."Senang melihatmu juga, sepupu."Logan menjatuhkan sebuah map tua ke atas meja.Map it

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu    Nama yang Tertinggal

    Desis statis dari radio itu hanya berlangsung sepersekian detik.Namun cukup untuk mengubah seluruh sikap Oliver.Senyumnya menghilang.Bukan karena marah.Karena waspada.Avery memperhatikan perubahan itu dengan saksama.Oliver tidak bergerak selama beberapa saat. Tatapannya tertuju pada perangkat radio yang tergeletak di sudut meja kerja, seolah mencoba memutuskan apakah gangguan itu penting atau tidak.Lalu radio kembali berbunyi.Kali ini lebih jelas."Vanguard. Jawab."Suara Logan.Oliver mengembuskan napas pelan."Kurasa kita tidak akan menikmati sore yang tenang."Avery menyandarkan pinggulnya ke meja kerja."Berita buruk?" muka tegang dan kepanikan terpancar dari wajahnya"Logan jarang menelepon hanya untuk menyapa."Oliver mengambil radio."Masuk."Suara statis kembali terdengar sebelum suara Logan muncul."Kami menemukan sesuatu."Avery melihat rahang Oliver mengencang."Tentang apa?""Tentang tanah milik Avery."Ruangan mendadak terasa lebih dingin.Avery berdiri lebih tega

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Jejak di Bengkel

    Avery mendorong pintu ruang kerja itu sedikit lebih lebar.Suara gerinda yang meraung nyaring langsung menyambutnya.Percikan api berhamburan dari meja kerja di sudut ruangan, menerangi wajah Oliver dalam kilatan cahaya oranye yang pendek dan berulang.Untuk beberapa saat, Avery hanya berdiri di ambang pintu.Mengamati.Ruang kerja itu terasa persis seperti pemiliknya.Kasarnya teratur.Berantakan dengan cara yang terencana.Ratusan perkakas tergantung rapi di dinding. Rak-rak logam dipenuhi baut, mur, pelat baja, dan potongan kayu yang telah dipotong dengan ukuran berbeda-beda.Di tengah semuanya berdiri Oliver.Fokus.Tenang.Membangun sesuatu.Avery tidak mengganggunya.Ia hanya melangkah masuk perlahan sampai suara sepatu wolnya menarik perhatian pria itu.Oliver mematikan mesin.Keheningan langsung memenuhi ruangan."Kau seharusnya beristirahat.""Aku bisa mengatakan hal yang sama padamu."Oliver mengangkat satu bahu."Aku sedang istirahat."Avery mengangkat alis.Pria itu menunju

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Lelah Kenikmatan

    Oliver menahan tubuhnya untuk tetap diam selama beberapa detak jantung, tertanam sangat dalam, membiarkan tubuh mereka menyatu dan terbiasa satu sama lain. Dia menempelkan dahinya di dahi Avery, membiarkan embusan napas mereka yang memburu saling berbaur. "Kamu pas," bisik Oliver dengan suara yang terdengar pecah. "Kamu terasa begitu pas di tubuhku.""Bergeraklah. Tolong, Oliver. Bergerak." Kuku-kuku jemari Avery bergerak mencakar bahu Oliver hingga menorehkan luka kemerahan.Oliver menarik tubuhnya mundur hingga hanya menyisakan bagian ujungnya yang tertinggal, lalu dia kembali menghantam masuk ke dalam. Benturan fisik itu membuat meja kayu ek yang berat di bawah mereka bergetar solid.Mereka menemukan sebuah ritme yang sama sekali tidak bisa dikatakan lembut—itu adalah sebuah hantaman yang konstan. Sebuah pengklaiman yang mutlak. Suara benturan kulit mereka terdengar menggema berirama, memantul di antara deretan perkakas logam yang tergantung di dinding ruangan. Oliver terus merangse

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status