Share

Teritori Baru

last update publish date: 2026-06-25 20:04:40

Langkah Oliver tidak boleh goyah. Sepatu botnya mencengkeram tanah setapak yang mulai dilapisi es tipis, tetapi tumpuan berat tubuh Avery di lengannya sedikit mengubah pusat gravitasinya. Anehnya, posisi ini terasa sangat pas. Menenangkan. Oliver menarik tubuh mungil gadis itu lebih erat ke dada, mengunci lekuk kakinya dengan lengan bawah agar tidak merosot. Avery terasa begitu pas dalam dekapannya, seperti potongan puzzle yang hilang dari hidupnya yang keras.

Jalan setapak semakin curam saat mereka mendekati batas tanah milik Oliver. Pria itu telah memasang kawat jebakan sejauh lima puluh yard ke luar—bukan sesuatu yang mematikan, hanya alat pembuat suara untuk memperingatkannya jika ada penyusup—tetapi dia melewatinya dengan mengandalkan ingatan luar kepala. Avery tidak menyadarinya. Kesadaran gadis itu mulai menipis; sisa adrenalin akibat jatuh di hutan tadi perlahan menguap saat rasa dingin mulai merasuk ke dalam tulangnya.

"Tetaplah bersamaku, Avery," kata Oliver, menyenggol pinggang gadis itu pelan dengan ibu jarinya agar dia tidak memejamkan mata.

"Aku bangun..." gumam Avery lirih, napas hangatnya menerpa leher Oliver. "Kamu hangat sekali. Seperti tungku berjalan."

"Mesinku memang selalu panas," gerutu Oliver pelan.

Mereka akhirnya melewati batas pepohonan dan kabin Oliver langsung terlihat. Bangunan ini sama sekali tidak seperti gubuk reyot milik Avery. Tempat tinggal Oliver adalah sebuah bunker yang disamarkan dalam wujud rumah kayu. Balok cedar tebal, penutup jendela dari baja yang diperkuat, serta area terbuka di sekelilingnya yang memberikan jarak pandang penuh ke segala arah bagi Oliver. Rumah ini berdiri membelakangi tebing curam Grizzly Peak; terlindungi, kokoh, dan terpencil.

Persis seperti yang disukai Oliver. Biasanya.

Keraguan mendadak memperlambat langkah sepatu Oliver di tangga beranda. Dia tidak pernah membawa orang asing ke sini. Saudara-saudaranya di klub motor Broken Halos hanya datang untuk urusan penting organisasi, dan sesekali Chase akan menyeretnya ke bengkel pandai besi miliknya, tetapi kabin ini adalah ruang pribadi Oliver. Keheningannya. Membawa seorang wanita masuk ke dalam—terutama wanita ini—terasa seperti melewati batasan suci yang tidak akan pernah bisa ditarik lagi olehnya.

Oliver menggeser tumpuan berat tubuh Avery, membebaskan satu tangan untuk memasukkan kode pada panel tombol digital. Kunci pintu terbuka dengan bunyi klik yang berat. Dia mendorong pintu dengan bahu lalu melangkah masuk, sebelum akhirnya menendang pintu itu kembali hingga menutup rapat di belakang mereka untuk menghalau hantaman angin.

Seketika, suasana menjadi sunyi senyap.

Isolasi dinding kelas militer sukses meredam badai mengamuk di luar menjadi sekadar dengungan samar. Udara di dalam ruangan terasa sejuk tetapi kering, membawa aroma kayu cedar, minyak pelumas senjata, dan sisa wangi kopi pagi Oliver yang masih tertinggal.

Oliver tetap mendekap Avery di area pintu masuk, membiarkan sepasang matanya menyesuaikan diri dengan suasana ruangan yang remang-remang. Satu-satunya cahaya hanya berasal dari sisa bara api di dalam tungku kayu di seberang ruangan dan kedipan lampu LED merah dari panel sistem keamanan.

"Kita sudah sampai," kata Oliver.

Avery mengangkat kepalanya, mengerjap lesu dengan pandangan sayu. "Baunya... mirip aromamu."

Kejujuran polos tanpa saringan itu seketika membuat rahang Oliver mengencang.

Oliver berjalan menuju sofa kulit besar yang menghadap langsung ke arah perapian, lalu menurunkan tubuh Avery ke sana. Pria itu sangat berhati-hati dengan pergelangan kaki Avery yang sakit, memosisikan tubuh gadis itu dengan nyaman di sudut bantalan sofa. Avery tampak begitu mungil di atas hamparan sofa kulit gelap itu; sebuah percikan warna dan kekacauan basah di tengah dunia Oliver yang teratur dan monokrom.

Oliver mundur selangkah, mendadak butuh jarak. Sisa hawa panas tubuh Avery masih terasa menempel erat di jaketnya.

"Tetap di situ," perintah Oliver tegas. "Aku perlu menyalakan api dulu."

Oliver menanggalkan jaket luarnya yang basah kuyup lalu menggantungnya di dekat pintu, kemudian bergerak mendekati tungku kayu. Setiap gerakannya terasa mekanis—membuka jeruji besi, mengaduk sisa bara api, menambahkan ranting penyulut, lalu memasukkan potongan balok kayu baru—namun isi kepalanya justru sedang berpacu liar.

Gadis itu terus memperhatikan Oliver. Pria itu bisa merasakan sorot tatapan Avery tertuju tepat pada punggungnya, rasanya setajam bidikan laser senjata di antara kedua belikatnya.

"Oliver?"

Gerakan Oliver mendadak kaku dengan tongkat besi pengorek yang masih berada di tangan. "Ya?"

"Terima kasih." Suara Avery terdengar mencicit kecil, tanpa sisa keberanian atau keangkuhan yang biasa dia pamerkan di teras rumahnya tadi. "Karena... sudah menolongku tadi."

Oliver membalikkan badan. Api di dalam tungku kini mulai berkobar, memancarkan cahaya oranye yang berkedip-kedip ke seluruh penjuru ruangan. Cahaya itu menerangi rambut basah Avery yang menempel erat di kepala serta getaran hebat yang masih mengguncang tubuh gadis itu. Avery benar-benar basah kuyup hingga ke tulang.

"Kamu kedinginan," ujar Oliver datar, memilih mengabaikan ucapan terima kasih Avery. Rasa terima kasih adalah hal tak berguna di tempat ini. "Kita harus segera mengganti pakaian basahmu itu."

Sepasang mata Avery seketika membelalak lebar, kilatan panik sempat terlihat sebelum akhirnya dia berusaha menyembunyikannya. "A-aku... aku bisa melakukannya sendiri. Apa kamu punya handuk?"

"Aku punya handuk," sahut Oliver sembari melangkah menuju lorong kamar. "Dan pakaian kering. Pakaianmu memang ada di dalam tas, tapi kondisinya terlalu dingin. Kamu pakai bajuku saja."

"Pakaianmu pasti akan membuatku tenggelam."

"Lebih baik tenggelam di dalam kain wol ketimbang mati membeku memakai celana denim basah."

Oliver mengambil selembar handuk tebal dan sepotong kemeja termal abu-abu dari dalam lemari pakaiannya. Gerakannya sempat tertahan sejenak, menatap kemeja di tangannya. Pakaian ini pasti akan menjuntai longgar di tubuh mungil Avery seperti sebuah gaun tidur. Bayangan Avery yang mengenakan pakaian pribadinya, berjalan-jalan di dalam ruangannya dengan aroma tubuh Oliver yang tertinggal di kainnya, mendadak menghantam kepala pria itu dengan sangat keras.

Oliver mencengkeram kain itu kuat-kuat. Kekuatan di tangannya bahkan nyaris merobek bahannya. Dia cuma tamu, kata Oliver pada diri sendiri, mencoba menenangkan diri. Seorang pengungsi yang terjebak badai. Tidak lebih. Namun, kebohongan itu terasa pahit bagai abu di lidahnya.

Oliver berjalan kembali ke ruang utama. Avery terlihat sedang bersusah payah mencoba melepas tali sepatu botnya, namun tangannya yang gemetaran terlalu hebat membuatnya gagal mengurai simpul tali yang basah. Gadis itu mendongak menatap Oliver dengan frustrasi, matanya berkaca-kaca karena rasa sakit yang mulai berdenyut di pergelangan kakinya.

Oliver meletakkan handuk dan kemeja termal ke sandaran sofa, lalu berlutut di lantai, tepat di depan kaki Avery. Tubuh besarnya sepenuhnya mengurung pergerakan gadis itu.

"Biar aku," kata Oliver rendah.

Sebelum Avery sempat memprotes, Oliver mencengkeram pergelangan kakinya yang sehat, sementara tangannya yang lain mulai mengurai simpul tali sepatunya dengan sentuhan yang sengaja dibuat lambat. Avery menahan napas, tubuhnya menegang saat Oliver mendongak, mengunci tatapan mereka dengan intensitas yang berbahaya.

"Pakaian basahmu harus dilepas sekarang, Burung Kecil," bisik Oliver serak, tangannya perlahan bergerak naik ke ritsleting baju kodok Avery yang mengetat di dada. "Mau kamu yang buka sendiri, atau aku yang melakukannya untukmu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Luka Lama

    Samuel tidak bergerak dari ambang pintu.Tangannya masih bertumpu pada dinding batu tua.Di dalam bangunan, dokumen-dokumen berserakan di atas meja.Di luar, matahari perlahan turun di balik pegunungan.Tidak ada yang berbicara.Karena kalimat terakhir Samuel masih menggantung di udara."Nathaniel tidak pernah ingin kalian melihat ini."Logan memecah keheningan lebih dulu."Aku mulai bosan mendengar kalimat itu."Samuel tidak menoleh."Bagus.""Apa?""Berarti kau mulai merasakan yang kurasakan selama empat puluh tahun."Oliver menghela napas pelan."Itu bukan jawaban.""Bukan."Samuel menyentuh salah satu rak kayu yang nyaris roboh."Jawabannya jauh lebih buruk."Keheningan kembali turun.Avery melihat sesuatu tergeletak di bawah rak yang miring.Bukan kotak.Bukan map.Sebuah papan kayu kecil.Sudutnya patah.Tertutup debu.Ia membungkuk dan mengambilnya.Debu beterbangan saat papan itu dibalik.Tulisan pudar mulai terlihat.KEPUTUSAN REGISTRASI TANAHDi bawahnya terdapat beberapa ta

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Di Balik Site B

    Langkah terakhir Samuel berhenti tepat di batas lereng berbatu.Tidak ada pagar.Tidak ada gerbang.Tidak ada tanda peringatan.Hanya deretan pinus tua yang tumbuh terlalu rapat, seolah alam sendiri berusaha menyembunyikan sesuatu.Angin sore bergerak pelan.Tak seorang pun berbicara.Karena setelah bertahun-tahun menjadi rumor, dokumen, dan rahasia...Site B kini berada tepat di depan mereka.Tristan bergerak lebih dulu.Ia menyingkirkan cabang-cabang yang menutupi jalan sempit di antara pepohonan.Logan mengikuti di belakangnya.Kemudian Avery.Oliver.Chase.Austin.Samuel berjalan paling akhir.Dan itu sendiri terasa aneh.Seolah pria tua itu sedang menunda sesuatu.Jalan setapak itu terus menurun.Semakin jauh mereka masuk, semakin jelas bahwa tempat ini pernah digunakan manusia.Bukan sekali dua kali.Melainkan selama bertahun-tahun.Avery melihat batu-batu yang sengaja disusun.Tiang kayu yang hampir membusuk.Bekas pondasi."Bukan gua."gumam Austin."Bukan.""Bukan bunker jug

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Pilihan Pertama

    Hujan berhenti menjelang pagi.Namun ketegangan di dalam kabin Nolan tidak ikut reda.Semalam tidak ada keputusan.Tidak ada kesepakatan.Hanya percakapan yang berubah menjadi perdebatan.Dan perdebatan yang berubah menjadi keheningan.Avery terbangun lebih dulu.Buku para penjaga masih terbuka di atas meja.Halaman dengan secarik catatan tua masih berada di tempat yang sama.Rahasia ini tidak diciptakan untuk disimpan.Tetapi juga tidak diciptakan untuk dimiliki.Ia membaca kalimat itu sekali lagi.Kemudian menutup buku tersebut.Ketika keluar ke beranda, ia menemukan Oliver sudah berada di sana.Secangkir kopi mengepul di tangannya.Tatapannya tertuju ke pegunungan."Kau juga tidak tidur?"tanya Avery."Tidur."jawab Oliver."Kau berbohong.""Kau terlalu mengenalku."Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri berdampingan.Memandang Grizzly Peak yang perlahan mulai diterangi matahari pagi."Apa yang kau pikirkan?"tanya Avery.Oliver tidak langsung menjawab."Aku memikirkan Nathaniel.

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Perpecahan

    Pintu markas Broken Halos masih terbuka ketika suara mesin SUV Richard akhirnya menghilang dari jalan utama.Tidak ada yang bergerak.Tidak ada yang berbicara.Hanya bunyi jam dinding tua yang terdengar dari sudut ruangan.Tick.Tick.Tick.Austin yang pertama memecah keheningan."Aku benci kalau dia melakukan itu."Logan masih berdiri menghadap pintu."Apa?""Datang."Austin menunjuk keluar."Mengatakan sesuatu yang mengganggu."Lalu menunjuk kepalanya sendiri."Kemudian pergi."Keheningan tetap bertahan.Karena kali ini Richard berhasil.Ia meninggalkan sesuatu.Keraguan.Logan berbalik.Tangannya bertumpu pada meja."Kita tidak mengubah rencana."Samuel yang sedang duduk dekat jendela mengangkat alis."Rencana yang mana?""Menjauh dari Site B."Samuel tertawa pendek."Itu bukan rencana.""Itu keputusan Nathaniel.""Nathaniel sudah meninggal."Ruangan langsung sunyi.Avery melihat rahang Logan mengeras.Kalimat itu mungkin benar.Tetapi tetap terdengar salah."Nathaniel meninggalkan

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Para Pemburu

    Suara mesin kendaraan terdengar bahkan sebelum mereka melihatnya.Dalam kota kecil seperti Grizzly Peak, suara itu cukup untuk membuat beberapa kepala menoleh.Dan cukup untuk membuat Logan berhenti berbicara.Mereka sedang berada di markas Broken Halos ketika suara itu mendekat.Austin yang sedang bermain kartu langsung menengok ke jendela.Chase meletakkan cangkir kopinya.Tristan mengangkat kepala.Tidak ada yang berkata apa-apa.Namun ruangan perlahan menjadi sunyi.Karena semua orang mengenali kendaraan itu.SUV hitam."Astaga."gumam Austin.Logan sudah berdiri sebelum kendaraan itu sepenuhnya berhenti.Pintu terbuka.Seseorang turun.Bukan karena mereka melihat wajahnya.Belum.Tetapi karena reaksi Logan.Rahangnya mengeras.Oliver yang sedang berdiri dekat meja langsung bergerak sedikit ke depan.Bukan agresif.Refleks.Austin mengembuskan napas."Oh bagus."Pintu markas terbuka.Richard Hale masuk.Namun ada sesuatu yang berbeda hari ini.Tidak ada senyum santai.Tidak ada ma

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Jalan Nathaniel

    Kabut masih menggantung di antara pepohonan ketika Samuel mengetuk pintu kabin.Tiga ketukan.Tidak lebih.Tidak kurang.Avery membuka pintu.Samuel sudah berdiri di beranda.Mengenakan jaket tua yang sama.Topi yang sama.Dan ekspresi yang membuatnya terlihat seperti seseorang yang lebih suka berada di tempat lain."Ada apa?"tanya Avery.Samuel tidak menjawab.Ia hanya berbalik dan mulai berjalan menuju truk tua yang terparkir di depan kabin."Samuel."Pria tua itu berhenti."Kau mau ikut atau tidak?"Itu bukan undangan.Lebih mirip tantangan.Dari dalam rumah, Oliver muncul.Tatapannya langsung berpindah dari Samuel ke Avery."Ke mana?"Samuel membuka pintu truk."Jalan-jalan.""Aku tidak percaya itu."kata Oliver."Itu karena kau punya insting yang sehat."Keheningan singkat.Samuel menunjuk kursi penumpang."Avery."Oliver melangkah maju."Aku ikut.""Tidak."Jawaban Samuel datang terlalu cepat.Rahang Oliver mengeras."Kenapa?"Samuel membuka pintu truk lebih lebar."Karena kali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status