Mag-log inAngin kencang menderu di antara celah pohon pinus, menghasilkan suara rendah yang biasanya menenangkan isi kepala Oliver. Namun saat ini, satu-satunya hal yang bisa ditangkapnya dengan jelas hanyalah deru napas pendek dan detak jantung gadis di belakangnya.
Oliver sengaja menjaga ritme langkah agar tetap lambat. Sepatu botnya mencengkeram tanah berlumpur, membuka jalan setapak bagi bayangan bertubuh mungil yang mengekor di belakang. Tanpa perlu menoleh, dia tahu Avery sedang berjuang setengah mati. Suara cipratan dari sepatu kota gadis itu terdengar berulang kali tergelincir di atas hamparan jarum pinus yang licin.
Gadis ini seharusnya tidak berada di sini. Gunung ini bukan tempat yang ramah untuk makhluk serapuh dia.
Saat pertama kali melihat Avery di teras gubuk itu—basah kuyup dan nekat menahan pagar lapuk yang nyaris roboh—ada sesuatu di dada Oliver yang mendadak sesak. Naluri protektif ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan bertetangga. Ini adalah insting murni yang menggerakkan seluruh tubuhnya.
Insting mematikan yang sama yang selama ini membuat Oliver bertahan di arena tarung bebas, sekaligus menjadikannya Vanguard untuk Broken Halos MC. Dia adalah penegak hukum utama di klub motor mereka.
Tugasnyalah yang membersihkan jalan dan mengubur setiap ancaman sebelum mereka sempat menyentuh saudara-saudaranya. Malam ini, Oliver melihat badai sebagai ancaman, dan dia melihat Avery sebagai warga sipil polos yang tidak tahu cara melindungi diri sendiri.
"Pelan-pelan sedikit!" teriak Avery dari belakang. Raungan angin membuat suaranya terdengar samar.
Oliver membalikkan badan. Avery berada sekitar sepuluh meter di belakangnya, kedua tangannya mencengkeram erat tali tas kanvas kecil. Sementara seluruh barang berat sudah beralih ke pundak tegap Oliver. Baginya, beban itu tidak ada apa-apanya. Namun bagi Avery, dia terlihat seolah sedang berjalan di atas pasir hisap.
"Langkahku ini bahkan hampir tidak bergerak, Avery," sahut Oliver, menurunkan intonasi suaranya agar menembus kebisingan badai.
"Langkahmu itu seukuran batang pohon!" semprot Avery sambil terengah-engah. Dia menyeka rambut basah yang menempel di wajah, menyisakan coretan lumpur samar di pipinya yang pucat. "Jalan santaimu sama saja seperti lari cepat bagiku!"
"Orang normal tidak akan membeli gubuk reyot di lereng gunung pada bulan November," balas Oliver datar.
"Gubuk itu punya potensi!" bantah Avery defensif, meskipun suaranya bergetar hebat karena gigi yang gemeletuk.
"Potensi jadi sarang rayap dan jebakan angin kencang yang membuatmu mati membeku. Berhentilah mendebat dan terus jalan."
Oliver kembali berbalik memunggunginya tanpa mempercepat langkah. Suara rintik hujan yang menyentuh tanah terdengar mendesis, tanda bahwa cairan itu mulai mengkristal menjadi butiran es padat. Jika mereka tidak sampai ke kabin miliknya dalam waktu sepuluh menit, gejala hipotermia di sepasang mata biru Avery akan benar-benar berubah menjadi petaka.
Seharusnya membiarkan gadis itu tinggal di dalam kotak kayu ringkihnya terasa lebih mudah bagi Oliver. Namun, pikiran itu terasa sangat keliru di kepalanya. Rasanya sama seperti sengaja meninggalkan gerbang wilayah kekuasaan serigala dalam keadaan tidak terkunci.
"Aduh!"
Pekikan tajam itu memecah kesunyian, disusul bunyi berdebum keras.
Oliver berputar cepat, memangkas jarak di antara mereka sebelum gema suara Avery habis disapu angin. Gadis itu sudah terkapar di tanah, tubuhnya tersangkut di antara jalinan akar pohon ek tua dan kubangan lumpur. Avery mencoba mendorong tubuhnya untuk bangkit, namun kaki kirinya terjebak pada sudut yang canggung di antara belitan akar yang kokoh.
"Diam. Jangan bergerak," perintah Oliver tegas sambil berjongkok di sampingnya.
"Aku cuma terpeleset," sahut Avery dengan napas memburu. Gurat rasa sakit tercetak jelas di sekitar matanya yang menyipit. "Aku tidak apa-apa. Cuma... aku tidak bisa melepaskan kakiku."
Sebelum logika Oliver sempat berpikir, tangannya bergerak sendiri mencengkeram betis Avery kuat-kuat. Kaki gadis itu terasa begitu kecil dan rapuh di balik lapisan celana denim tebal—seperti tulang burung yang dibungkus selembar kain sutra. Oliver menstabilkan posisi pergelangan kakinya dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain dipakai untuk merenggangkan struktur akar pohon sekuat tenaga. Kayu tua itu berderit keras melawan kekuatan tangan Oliver, sampai akhirnya celahnya terbuka cukup lebar untuk meloloskan sepatu Avery.
"Ada yang sakit?" tanya Oliver sambil meraba bagian persendian pergelangan kaki Avery, memeriksa tanda pembengkakan di balik kulit sepatunya.
"Cuma terkilir sedikit. Aku masih bisa berjalan."
"Aku meragukannya."
"Aku bisa!" desak Avery keras kepala, mencoba bertumpu pada kakinya untuk berdiri. Namun, kaki itu langsung lemas kehilangan tenaga begitu menerima beban tubuhnya sendiri.
Kali ini Oliver tidak akan membiarkan tubuh Avery kembali menghantam tanah berlumpur. Pria itu langsung menangkapnya.
Lengan kekar Oliver melingkari pinggang mungil Avery, menyentak tubuh gadis itu ke atas dalam satu gerakan mantap hingga berdiri tegak. Momentum mendadak itu membuat dada Avery membentur telak dada bidang Oliver. Benturan itu seakan merengenggut pasokan udara Avery, menyisakan embusan napas hangat yang menerpa permukaan leher Oliver.
Untuk beberapa detik, mereka berdua membeku di posisi itu. Hantaman hujan es terus memukuli jaket mereka, namun seluruh kebisingan badai mendadak senyap di dalam kepala Oliver.
Ini pertama kalinya Oliver benar-benar merasakan perbedaan ukuran tubuh mereka yang terlampau jauh. Mendekap Avery sedekat ini, merasakan tubuh mungil gadis itu menempel erat pada dinding tubuhnya yang keras, kelembutan sosok Avery benar-benar melumpuhkan akal sehat pria itu. Avery begitu mungil sekaligus keras kepala; sebuah cahaya yang benderang namun terbungkus dalam wadah yang rapuh.
Cengkeraman tangan Oliver di pinggang Avery spontan mengencang. Jari-jarinya meremas mantel tebal gadis itu, merasakan dengan jelas bagaimana lekuk halus tulang pinggul Avery berada dalam kuasanya. Tubuh Avery bergetar hebat, dan detak jantungnya yang berdegup kencang kini bisa dirasakan langsung berdenyut di tulang rusuk Oliver.
Avery mendongak menatap Oliver. Matanya membelalak lebar dengan pupil yang melebar sepenuhnya, seolah berusaha membaca ekspresi di balik wajah kaku sang pria.
"Oliver..." bisik Avery lirih. Suaranya terdengar seperti sebuah permohonan.
Oliver balas menatap lurus ke dalam matanya. Biasanya, orang akan langsung mundur ketakutan jika dia berada dalam jarak sedekat ini. Tubuhnya terlalu besar, intimidatif, dan dipenuhi bekas luka masa lalu. Namun Avery justru bergerak merapat, mencari perlindungan di dalam kukungannya seolah pria itu adalah satu-satunya tempat aman yang tersisa di dunia ini.
"Pegangan yang kuat, Burung Kecil," bisik Oliver serak, tepat di depan bilah bibir Avery yang bergetar.
Sebelum Avery sempat mencerna kalimat itu, Oliver menyusupkan satu lengan lagi di bawah lipatan lututnya, mengangkat tubuh mungil gadis itu sepenuhnya ke dalam gendongan, lalu melanjutkan langkah kokohnya menembus badai.
Avery tidak menyukai pagi itu.Bukan karena cuacanya.Bukan karena jalan menuju markas Broken Halos yang licin akibat salju yang baru mencair.Tetapi karena semalaman ia terus memikirkan satu kalimat yang diucapkan Logan melalui radio.Samuel Voss tidak pernah dinyatakan meninggal.Kalimat itu terus berputar di dalam kepalanya seperti roda yang tidak mau berhenti.Jika Samuel tidak pernah meninggal, lalu ke mana pria itu pergi?Dan kenapa seseorang berusaha menghapus keberadaannya dari hampir setiap catatan yang mereka temukan?Oliver mengemudikan truk dalam keheningan yang nyaman. Satu tangannya berada di setir, sementara tangan lainnya sesekali menyentuh punggung tangan Avery yang berada di kursi tengah.Sentuhan kecil.Hampir tidak berarti.Namun cukup untuk membuat Avery merasa sedikit lebih tenang."Aku tidak suka ini," katanya akhirnya."Kau sudah mengatakannya tiga kali.""Aku tetap tidak suka.""Itu tidak berubah."Avery mendengus pelan.Oliver meliriknya sekilas."Logan akan
Oliver tidak bergerak.Ia tetap berdiri di depan jendela, memperhatikan SUV hitam yang terparkir di ujung jalan masuk kabin.Mesinnya sudah mati.Lampunya juga.Namun tak seorang pun keluar.Avery berdiri beberapa langkah di belakangnya."Apa kita mengenalnya?""Tidak."Jawaban itu langsung membuat suasana berubah.Karena Oliver mengenal hampir semua kendaraan yang biasa melewati Grizzly Peak.Truk pengangkut kayu.Petugas kehutanan.Penduduk setempat.Pendaki langganan.Bahkan wisatawan yang terlalu sering tersesat.Jika Oliver berkata tidak mengenalnya, berarti kendaraan itu memang asing.Benar-benar asing.Lima menit berlalu.SUV itu tetap diam.Tidak ada gerakan.Tidak ada suara.Tidak ada tanda-tanda kehidupan.Oliver mengambil jaketnya dari sandaran kursi."Aku akan keluar."Avery ikut berdiri."Aku ikut.""Tidak.""Aku tidak akan bersembunyi di dalam rumah."Oliver menatapnya.Avery membalas tatapan itu tanpa mengalah.Mereka sudah cukup lama bersama untuk mengetahui kapan sebu
Ruangan tetap sunyi beberapa detik setelah Logan membalik buku registrasi itu.Samuel Voss.Nama yang sama.Nama yang muncul di dokumen Nathaniel.Nama yang terukir di batu tua di tengah hutan.Dan sekarang...seorang anggota tim survei yang menghilang empat puluh lima tahun lalu.Austin menjadi orang pertama yang memecah keheningan."Yah."Ia bersandar di kursinya."Itu tidak menyeramkan sama sekali."Tidak ada yang tertawa.Bahkan Austin tampak menganggap leluconnya gagal kali ini.Logan mengambil buku registrasi itu dan kembali membacanya dengan lebih perlahan."Ada lima anggota tim."Jarinya bergerak menyusuri halaman."Dua ahli topografi.""Satu operator radio.""Satu teknisi geologi.""Dan Samuel Voss.""Apa pekerjaannya?" tanya Avery.Logan mengernyit."Itu aneh.""Apa?""Kolom pekerjaannya kosong."Oliver berdiri di dekat jendela.Tatapannya mengarah ke hutan gelap di luar markas."Kosong seperti catatan pengiriman Nathaniel.""Ya."Jawaban Logan terdengar pelan.Terlalu pelan
Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara.Mereka berdiri mengelilingi patok tua itu, membiarkan kenyataan baru perlahan meresap ke dalam pikiran masing-masing.Simbol lingkaran bersilang itu nyata.Bukan gambar di atas peta.Bukan coretan di arsip.Bukan petunjuk yang tersimpan dalam surat.Seseorang telah mengukirnya di sini.Di tengah hutan.Bertahun-tahun lalu."Jadi kita tidak sedang mengejar cerita hantu," gumam Austin.Logan meliriknya."Kau ikut sejak kapan?"Austin muncul dari balik batang pinus dengan secangkir kopi di tangannya."Aku bosan menunggu di markas.""Tidak mungkin kau membawa kopi mendaki sejauh ini.""Aku pria penuh bakat.""Aku ingin memukulnya," kata Tristan datar."Aku mendukung ide itu," sahut Oliver.Austin tersenyum bangga seolah baru menerima pujian.Avery menggeleng pelan.Beberapa hal tampaknya memang tidak akan pernah berubah.Logan berjongkok di dekat patok kayu.Dengan hati-hati ia membersihkan lumut yang menempel di permukaan ukiran.Simbol itu
Avery hampir tidak tidur malam itu.Tulisan tangan yang ditemukan di sudut dokumen tua itu terus berputar di dalam kepalanya.Jalur Utara. Rahasia.Tiga kata sederhana.Namun cukup untuk mengubah semuanya.Setiap kali memejamkan mata, Avery membayangkan Nathaniel Nolan duduk di meja yang sama puluhan tahun lalu, menandatangani dokumen yang kini terbentang di dapurnya.Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?Dan kenapa?Di sampingnya, Oliver masih tertidur. Salah satu lengannya terentang melewati pinggang Avery, seolah bahkan dalam tidur pria itu tetap memastikan tidak ada yang bisa mengambil sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya.Avery tersenyum kecil.Lalu perlahan melepaskan diri dari pelukannya.Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit saat dia turun ke dapur.Kabut pagi menggantung rendah di antara pepohonan pinus.Udara dingin.Sunyi.Damai.Avery menyeduh kopi lalu membuka kembali salinan dokumen yang dibawanya dari toko.Ia memeriksa setiap sudut halaman.Setiap kode.Setiap catat
Logan tiba kurang dari lima menit kemudian.Itu saja sudah cukup menjadi tanda bahwa situasinya serius.Biasanya pria itu akan menyelesaikan apa pun yang sedang dia kerjakan terlebih dahulu sebelum merespons panggilan siapa pun. Namun kali ini pintu ruang arsip langsung terbuka dengan hentakan keras."Apa yang kalian temukan?"Tatapannya berpindah dari Oliver ke Avery.Lalu ke tumpukan dokumen yang memenuhi meja.Avery menggeser beberapa lembar kertas ke arahnya."Ini."Logan mengambil berkas teratas.Keheningan langsung memenuhi ruangan.Satu halaman.Dua halaman.Tiga halaman.Semakin lama dia membaca, semakin dalam kerutan yang muncul di dahinya."Kenapa aku baru melihat ini sekarang?" gumamnya."Karena tidak ada yang pernah mencarinya," jawab Avery.Logan mengangkat kepala."Itu bukan jawaban yang kusukai.""Tapi itu benar."Oliver tetap berdiri di samping Avery.Diam.Mengamati.Menunggu.Seperti biasa.Logan membolak-balik halaman berikutnya."SV-17..."Jarinya mengetuk salah sa







