Zea duduk kaku di sofa, matanya tidak lepas dari wajah Donna yang berjalan mondar-mandir pelan sambil menempelkan ponsel ke telinga. Setiap kali ekspresi ibunya berubah, sekecil apa pun, jantung Zea ikut berdegup lebih cepat. "Iya, Dok ... jadi menurut Dokter, kondisi kayak gitu memang bisa terjadi?" Donna bertanya, alisnya berkerut dalam. Zea menahan napas. Di sampingnya, Marco duduk dengan punggung tegak dan rahang mengeras, matanya sesekali melirik ke arah Donna, lalu kembali ke lantai, seolah tidak sanggup diam terlalu lama menatap satu titik. "Terus kalau nggak ditangani ... bisa separah apa, Dok?" Donna bertanya lagi, kali ini suaranya lebih pelan. Zea meremas ujung baju tidurnya. Ia mencoba membaca raut wajah Donna, namun ekspresi ibunya sulit ditebak. Campuran antara khawatir, bingung, dan sesuatu yang belum bisa Zea pastikan. Marco menggeser posisi duduknya sedikit, tangannya nyaris terulur untuk menggenggam tangan Zea, tapi ia menahan diri, sadar situasinya belum aman un
Última actualización : 2026-08-15 Leer más