LOGINNapas Zea tertahan. Jemarinya mengencang di tepi kertas yang sudah menguning. Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa sesak. Gadis itu melanjutkan membaca. Marco kecil menulis tentang rumahnya yang sepi, tentang Mamanya yang sering sibuk dengan urusannya sendiri dan Papanya yang hampir selalu bekerja. Dan tentang bagaimana suasana rumah Zea justru terasa jauh lebih hangat. [Aku lebih suka di rumahmu. Entah kenapa, rasanya lebih nyaman kalau ada kamu.] Zea menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia melanjutkan membaca. Marco menulis tentang kolam renang, tentang Zavian yang galak tetapi sebenarnya baik, juga tentang tatapan mengancam Zavian setiap kali Marco duduk terlalu dekat dengannya. [Padahal, aku cuma suka ada di dekat kamu.] Air mata Zea mulai jatuh, menetes pelan ke atas kertas yang sudah menguning itu. Ia terus membaca. Marco menulis tentang dirinya sendiri yang bingung, yang tidak tahu kenapa selalu ingin dekat dengan Zea, yan
Saat Zea mengangkat tutup kotak itu perlahan, bau kayu tua dan kertas lama langsung menguar begitu tutupnya terbuka sepenuhnya. Di dalamnya, benda-benda kecil tersusun rapi, seolah sengaja disimpan dengan hati-hati selama bertahun-tahun. Bunga kertas yang warnanya sudah memudar. Beberapa origami berbentuk hati dan burung, lipatannya masih rapi meski kertasnya sudah menguning. Lalu miniatur kecil dari stik es krim yang disusun jadi bentuk rumah sederhana. Bungkus permen lama yang sudah pudar, sebagian ada permen rasa susu yang sudah kadaluarsa Zea mengambil bunga kertas itu lebih dulu dan mengamatinya dengan rasa penasaran yang belum sepenuhnya ia pahami sendiri. Lalu ia membalikkannya. Di bagian belakang, ada tulisan kecil dengan tinta yang hampir pudar: [Zea.] Ia terdiam sebentar, lalu meletakkan bunga itu dan mengambil sebuah origami. Saat membaliknya, ia menemukan tulisan tangan anak-anak yang masih berantakan di bagian belakangnya: [Untuk Zea] Ia mengambil satu per satu bend
Moara tidak mampu membantah satu kata pun. Ia menundukkan pandangan, menyadari bahwa permintaan maaf saja tidak akan pernah cukup untuk menebus semua yang sudah terjadi. “Aku ... ingin membantu Zea melewati semua ini,” ucapnya pelan, lalu menoleh pada Zea. “Kalau kamu butuh bantuan, Tante bisa carikan psikolog untuk—” “Aku nggak butuh itu, Tante,” potong Zea cepat. Moara langsung terdiam. Zea menarik napas dalam. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia tetap memaksa dirinya untuk bicara. “Aku tahu aku lagi nggak baik-baik saja,” katanya lirih. “Dan masalahku adalah … aku kehilangan rumah, aku kehilangan rasa aman ...” Suaranya bergetar. “Dan yang paling sakit … aku kehilangan kepercayaan Kakakku sendiri sampai akhirnya dia yang mengusir aku.” Ia menatap Moara dengan mata yang masih basah. “Itu yang harus aku hadapi setiap hari, Tante.” Suara Zea bergetar, tetapi tatapannya tetap tertuju pada Moara. “Dan semua itu terjadi karena ulah anak Tante.” Kalimat Zea menghantam telak. Mo
Sejenak suasana hening. Feby kemudian menoleh pada Zea dan Donna, seolah memberi mereka kesempatan untuk berbicara tanpa dirinya ikut campur. “Zea, Tante,” panggilnya pelan. “Aku tunggu di mobil, ya. Biar kalian bisa ngobrol dulu.” Zea menatap sahabatnya, lalu mengangguk kecil. “Oke, Feb.” Feby sempat melirik Moara sebelum akhirnya beranjak meninggalkan mereka. Ia berjalan menuju mobil, membiarkan Zea dan Donna tetap berada di taman bersama Moara. Zea kembali menatap kotak kayu di tangannya, dan jemarinya berhenti tepat di atas tutupnya. Ia tidak segera membukanya. "Kamu nggak harus buka sekarang," ucap Moara pelan, seolah bisa membaca keraguan di wajah Zea. "Kalau belum siap, simpan saja dulu. Tante nggak maksa kamu buka isinya, apalagi maksa kamu buat maafin Marco." Zea mengangkat wajah, menatap Moara dengan tatapan yang masih dingin. "Kenapa Tante malah bilang begitu?" "Karena itu barang pribadi Marco," jawab Moara. "Keputusan mau buka atau nggak, tetap ada di tangan kamu."
Di akhir pekan, Zea dan Feby akhirnya keluar rumah setelah Henny menyuruh mereka jalan-jalan agar Zea tidak terus mengurung diri. Zea juga sudah lebih dulu menghubungi Donna dan berjanji akan mampir ke rumah hari itu.Feby menyetir santai menuju rumah Zea. Radio menyala pelan, mengisi perjalanan yang terasa lebih ringan setelah beberapa hari terakhir dipenuhi ketegangan."Aku cuma mampir, ya, Feb," ucap Zea, menatap keluar jendela."Iya, aku ngerti," jawab Feby singkat, tidak memaksa lebih jauh.Begitu mobil berbelok memasuki jalan menuju rumah, Zea melihat Donna sudah berdiri di depan pagar, mengenakan pakaian santai dengan keranjang piknik tergantung di salah satu tangannya."Ma?" Zea turun dari mobil dengan sedikit bingung. "Mama mau ke mana?”Donna tersenyum lembut. "Ikut Mama sebentar. Ada tempat yang pengin Mama tunjukin lagi."Tak lama, mereka bertiga berjalan kaki menuju taman yang tak jauh dari rumah, tempat yan
Menjelang siang, Moara duduk di kursi besi di taman belakang mansion. Secangkir teh di atas meja di hadapannya perlahan mendingin, nyaris tak tersentuh sejak tadi. Tak lama, Adrian muncul dari pintu samping mansion, membawa kotak kayu tua yang sudah tampak usang di sudut-sudutnya. Ia menyerahkannya dengan hati-hati. "Kotak ini saya ambil dari lemari kamarnya, Nyonya," ucap Adrian pelan. Moara mengangguk, menerima kotak itu dengan kedua tangan. "Terima kasih, Adrian. Kamu boleh pergi." Begitu Adrian meninggalkannya sendirian, Moara menatap kotak kayu itu cukup lama. Keraguan yang membuat tangannya terdiam sejenak. Ini barang pribadi putranya, yang selama bertahun-tahun Marco simpan rapat-rapat dan tidak pernah berniat membagikannya kepada siapa pun, bahkan kepada dirinya sendiri. Namun rasa ingin memahami putranya, yang belakangan terasa semakin menjauh dan asing, jauh lebih besar dari rasa bersalahnya. Ia membuka tutup kotak itu perlahan. Satu per satu, benda-benda kecil tersin







