แชร์

113. Marco Batu.

ผู้เขียน: Amaleo
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-14 19:55:59

Zea berusaha menjawab di panggilan video itu, tapi suaranya langsung pecah. “Kak Zavian … tahu.”

Marco membeku. “Tahu apa?”

Zea menelan ludah, lalu mengusap air matanya dengan tangan yang gemetar. “Dia lihat bekas merah di leherku.”

Rahang Marco mengeras.

“Dia marah besar,” lanjut Zea dengan suara bergetar. “Dia pikir aku sengaja cari perhatian atlet-atlet di klub. Bilang aku bohong terus sama dia.”

Zea menarik napas tersendat. “Dan posisiku sebagai asisten di klub ditangguhkan. Terus
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   115. Keciduk Donna.

    Zea menggigit bibir. Tubuhnya yang lelah secara emosional dan fisik justru bereaksi lebih cepat dari biasanya. Ia merasa aman di bawah sentuhan Marco, meski pikirannya masih semrawut.Marco menarik pelan celana pendek Zea. Jari-jarinya menyusup melewati celana dalam, menyentuh lipatan yang sudah licin, lalu masuk perlahan.“Ahhn … Marco, kamu lagi-lagi … malah menyentuhku seperti ini.”Mereka saling menatap dengan napas sama-sama berat. Gairah yang sempat tertahan akhirnya mulai bangkit kembali. Marco menunduk, dan kini bibir mereka perlahan saling menempel.Ciuman mereka begitu dalam dan basah. Lidah Marco perlahan menyusup masuk, menjelajahi mulut Zea dengan gerakan lambat namun penuh gairah. “Mmhh …” Zea mengerang pelan di sela ciuman, tangannya naik mencengkeram bahu Marco.Lidah mereka saling bertaut, basah dan panas, hingga suara kecupan basah terdengar jelas di antara napas yang memburu. Marco menciumnya semakin dalam, se

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   114. Gairah di Tengah Masalah.

    Zea yang masih terduduk di lantai dengan tubuh lemas dan dada yang terus berdenyut nyeri, mengangkat wajahnya pelan. Matanya yang sembab menatap ke arah gorden yang tertutup. Dengan sisa tenaga yang ada, ia bangkit tertatih. Setiap langkah terasa berat. Paha dalamnya masih nyeri, dan tekanan di dadanya belum mereda sama sekali. Ia meraih gorden dan menariknya sedikit, lalu membuka kunci jendela dengan jari yang gemetar. Udara malam langsung menyapu wajahnya ketika mulai jendela terbuka. Marco sudah berdiri di luar, di dahan pohon yang biasa ia panjat. Wajahnya tegang, rahang mengeras, dan matanya penuh kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Begitu jendela terbuka cukup lebar, Marco langsung masuk tanpa menunggu izin. Gerakannya gesit dan tanpa suara. Ia lalu menutup jendela di belakangnya dan berbalik menghadap Zea. “Zea …” suaranya serak. “Mukamu pucat sekali.” Zea masih sempat berdiri tegak, meski tubuhnya goyah. “Aku … udah bilang jangan datang …” Marco tidak menjawab. I

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   113. Marco Batu.

    Zea berusaha menjawab di panggilan video itu, tapi suaranya langsung pecah. “Kak Zavian … tahu.” Marco membeku. “Tahu apa?” Zea menelan ludah, lalu mengusap air matanya dengan tangan yang gemetar. “Dia lihat bekas merah di leherku.” Rahang Marco mengeras. “Dia marah besar,” lanjut Zea dengan suara bergetar. “Dia pikir aku sengaja cari perhatian atlet-atlet di klub. Bilang aku bohong terus sama dia.” Zea menarik napas tersendat. “Dan posisiku sebagai asisten di klub ditangguhkan. Terus … aku nggak boleh keluar rumah,” lanjut Zea. “Kalau mau pergi, harus sama Mama atau Kak Zavian. Dia benar-benar marah sama aku, Marco.” Marco terdiam. Tatapan Marco berubah gelap. “Aku datang sekarang.” Zea langsung mendongak. “Jangan!” “Aku datang.” Marco bersikukuh, “aku harus lihat kamu sekarang.” Marco sudah hendak berdiri dari tempatnya ketika Zea hampir berteriak. “Kamu mau cari mati atau apa?!” Marco berhenti bergerak. Zea menatap layar dengan mata yang penuh air mata. “Kakak

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   112. Amarah Zavian Meledak.

    Zea panik saat Zavian masih memegang rambut Zea sambil menatap tajam ke lehernya. Tangannya refleks naik menutupi leher, dan wajahnya memucat seketika. “Kak, i–ini—” Zavian tidak memberi kesempatan. Ia mendorong Zea masuk ke kamar dengan satu tangan di bahu, lalu menutup pintu di belakangnya dengan gerakan tegas. Bunyi klik terdengar pelan, seolah memastikan Donna tidak akan mendengar apa pun dari luar. Suasana di dalam kamar langsung menjadi tegang, dan hanya napas keduanya yang terdengar. Zavian berdiri di depan pintu dengan tangan masih terlipat di dada. Matanya menyapu wajah Zea dari atas ke bawah, lalu kembali ke leher yang kini ditutupi tangan adiknya. “Turunkan tanganmu,” perintahnya rendah. Zea menggeleng gemetar. "Kak, dengerin dulu—" "TURUNKAN!" Suara kakaknya menggelegar, membuat Zea tersentak dan refleks menurunkan tangannya. Zavian mendekat dengan dadan naik turun menahan amarah yang sudah tidak sanggup lagi ia bendung. "Udah berapa lama?" Suaranya berget

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   111. Ketahuan Ada Kissmarks.

    Zea menatap foto itu beberapa menit. Anehnya, dadanya sesak, tapi bukan karena rasa cemburu seperti yang mungkin Dimas kira.Yang justru terasa menyesakkan adalah ironi dari semuanya. Kondisinya sendiri yang tidak pernah benar-benar bisa ia kendalikan, tubuh yang tidak bisa hanya bergantung pada pompa. Lalu hidup Marco yang juga tidak sepenuhnya miliknya sendiri, terikat oleh perjodohan yang bahkan bukan keinginannya. Zea maupun Marco sama-sama terjebak dalam sesuatu yang jauh lebih besar dari yang terlihat di permukaan.Ia tahu betul Dimas hanya khawatir. Tapi cara pria itu begitu keliru saat ia mengambil foto diam-diam seperti itu. Meski niat Dimas jelas karena tulus, apalagi setelah konfrontasinya langsung dengan Marco kemarin.Zea menghela napas, lalu mengetik balasan.[Iya, hari ini aku absen. Dan makasih ya. Aku hargai kekhawatiran kamu soal aku. Tapi cukup sampai di sini, ya, Dimas. Apa pun yang terjadi antara aku dan Marco, biar

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   110. Api yang Disulut Dimas.

    Zea menghela napas pelan, mencoba menata kalimat yang paling aman untuk diucapkan."Sebenarnya udah dari lama, Ma," katanya akhirnya, suaranya pelan. "Waktu di pesta ulang tahun Selena beberapa minggu lalu, dia sempat … negur aku di depan tamu-tamu."Donna mengerutkan kening. "Menegur gimana?""Yaa … dia menyinggung aku soal jadi satu-satunya perempuan di klub," lanjut Zea, menunduk. "Bilang aku 'betah' dikelilingi cowok-cowok. Terus dia juga sempat jodoh-jodohin aku sama salah satu atlet, di depan banyak orang. Jujur, itu bikin aku nggak nyaman."Zea buru-buru menambahkan. "Mungkin dia juga heran kali, ya, Ma, soalnya kan aku perempuan sendirian di klub renang cowok-cowok kayak gitu. Jadi wajar aja kalau dia nggak biasa."Donna diam sebelum rahangnya mengeras. "Zea, itu bukan alasan buat dia ngomong kayak gitu di depan orang banyak.""Kenapa kamu nggak cerita dari awal?" Nada suaranya naik sedikit, campuran antara kesal dan khaw

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status