Donna menoleh dari kursi di samping ranjang. Wajahnya lelah, tapi ia mengangguk. “Masuk saja, Dimas.” Dimas berjalan masuk, meletakkan buah di meja nakas, lalu melirik ke arah Zea yang masih terbaring lemah. “Gimana kondisi kamu, Zea?” tanyanya, suaranya canggung. Zea hanya mengangguk kecil, tanpa mengangkat wajah. Donna akhirnya berdiri dari kursi. “Mama turun sebentar mau beli sesuatu. Dimas, mau titip sesuatu?” “Nggak usah, Tante,” jawab Dimas cepat. “Saya sudah makan sebelum ke sini.” Donna mengangguk, lalu keluar dari ruang inap, meninggalkan keduanya berdua. Keheningan langsung menyelimuti ruangan. Zea menunduk, jari-jarinya meremas seprai erat-erat. Rasa malu begitu kuat, dan merasa reputasinya sudah hancur di mata Dimas setelah skandal dan kekacauan di Venue. Dimas duduk di kursi yang tadi diduduki Donna. Ia menarik napas pelan, lalu memutuskan untuk membuka pembicaraan. "Aku tahu kamu pasti kepikiran soal Marco," ucapnya. "Jadi biar aku cerita duluan." Zea mengangkat
Last Updated : 2026-08-23 Read more