"Feb,” panggil Zea lirih, sekaligus gemetar, “ja–jangan diangkat dulu! Kita di hotel—" "Zea." Feby memotong cepat, suaranya tenang meski matanya menyorotkan keseriusan. "Kamu keluar rumah pakai alasan ketemu aku, kan?" Zea terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan, rasa bersalah langsung menghantam dadanya. "Maaf, Feb," bisiknya lirih. "Aku ... udah nggak tahu lagi harus pakai alasan apa biar bisa keluar rumah. Jadi aku pakai nama kamu.” Feby tidak menjawab dengan kemarahan seperti yang Zea takutkan. Ia justru mengangguk mantap, seolah semua ini sudah bisa ia duga sejak awal. "Udah kuduga," gumamnya singkat. Lalu tanpa aba-aba, ia menarik tangan Zea. "Ayo, tiduran di ranjang." Zea tersentak kaget, matanya membulat. "M–mau ngapain, Feb?" "Nolongin kamu, lah," jawab Feby cepat sambil menyeret Zea mendekati ranjang. "Apalagi coba? Biar keliatan meyakinkan kalau kamu beneran di rumahku.” Belum sempat Zea mencerna sepenuhnya, Feby sudah menariknya berbaring di atas ranjang.
آخر تحديث : 2026-08-07 اقرأ المزيد