Jack juga segera menenangkan dirinya. Dia memunggungiku, menaikkan ritsletingnya dengan santai, lalu merapikan pakaiannya kembali.Begitu dia membalikkan badan, penampilannya sudah kembali rapi dan berwibawa, seolah-olah pria bajingan yang baru saja menekanku ke cermin dan mempermainkanku sesuka hati tadi bukanlah dirinya.“Maaf,” ucapnya sambil menatapku, tanpa ada nada penyesalan sedikitpun dalam suaranya. “Sepertinya kelas kita hanya bisa sampai di sini.”Aku menggigit bibir sambil menunduk, tak berani menatapnya.Takut begitu melihatnya, aku akan langsung teringat kembali bayangan-bayangan memalukan tadi.“Pak Jack, kalau sudah nggak ada urusan, aku pamit pulang dulu.”Aku langsung mengambil tas, hanya ingin segera kabur dari tempat yang membuatku sesak napas ini.“Biar kuantar,” katanya.“Nggak perlu!” tolakku hampir berteriak.Bahkan sedetikpun, tak ingin kuhabiskan dengannya.Usai bicara, aku langsung berlari keluar dari studio tanpa menoleh ke belakang lagi.Begitu diterpa ang
Read more