Share

Bab 5

Author: Liam
Sambil bicara, kedua tangannya kembali ke pinggangku, mendekapku erat-erat ke dalam pelukannya.

Kali ini, tubuh kami menempel sangat erat dengan posisi saling berhadapan.

Bagian tubuhnya yang keras dan membara di antara selangkangannya kini menekan langsung tanpa penghalang pada perut bagian bawahku.

Aku bahkan bisa merasakan bagian itu berkedut dengan berirama.

Tubuhku pun langsung memberikan reaksi akibat sentuhan itu.

Dari bagian terdalam perut bawahku, muncul rasa hampa dan kerinduan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Aku sangat menginginkannya….

Ingin diisi penuh oleh sesuatu.

Aku tersentak kaget begitu pikiran ini melintas.

Bagaimana bisa aku memiliki pemikiran yang begitu tak tahu malu?!

Aku mendorong dadanya sekuat tenaga, berusaha memberi jarak di antara kami.

“Pak Jack, ke… kelasnya sudah selesai. Aku sudah mau pulang.”

“Kok cepat sekali?”

Dia mengangkat alisnya, “Aku bahkan belum mahir.”

“Kamu….”

“Bu, ajari aku satu gerakan lagi, boleh?” ujarnya memotongku dengan nada bicara yang terdengar agak manja.

Seorang pria berusia empat puluh tahun berbicara dengan nada seperti itu, bukannya terasa aneh, malah memancarkan pesona luar biasa menyebalkan.

Hatiku yang lemah ini pun langsung luluh begitu saja.

“Ini… yang terakhir.”

“Iya.”

Dia tersenyum, senyuman yang menyiratkan bahwa rencananya telah berhasil.

Dia menarikku berjalan ke depan dinding cermin yang berada di tengah studio.

“Ajari aku satu gerakan dansa yang menempelkan tubuh,” ujarnya.

Seketika, jantungku seolah melompat sampai ke tenggorokan.

“Aku… aku nggak bisa,” jawabku berbohong.

“Benarkah?” Dia menatapku melalui cermin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti.

“Tapi, aku dengar Bu Helen bisa menguasai semua jenis tarian.”

Dia menyudutkanku hingga ke dinding cermin, membuat punggungku menempel erat pada permukaan cermin yang dingin.

Sementara tubuhnya bagaikan dinding yang membara, langsung menindihku dari depan.

Perpaduan antara rasa dingin dan panas yang kontras membuatku reflek merinding.

“Bu, lihat ke cermin.”

Suaranya terdengar bagaikan bisikan iblis yang menggoda di telingaku.

Aku pun tanpa sadar langsung menatap ke arah cermin.

Di dalam cermin, tubuhku tampak terkunci sepenuhnya dalam pelukannya, tak bisa bergerak sama sekali.

Rok tari yang kukenakan sangat pendek, hanya bisa menutupi bokong.

Salah satu kakinya menyelinap di antara kedua kakiku, dengan posisi lutut yang tepat menekan bagian paling sensitifku.

Hanya terhalang rok tari dan celana dalam yang tipis, tulang lututnya yang keras berulang kali menggesek bagian intimku yang sensitif.

Gelombang demi gelombang sensasi bagaikan aliran listrik meledak dari sana, lalu menjalar ke seluruh tubuhku.

Kedua kakiku terasa lemas hingga hampir tak bisa berdiri. Aku hanya bisa menumpukan seluruh tubuhku pada dinding cermin di belakangku.

“Bu, wajahmu merah sekali.”

Tangannya mengusap pipiku. Suhu tangannya yang panas membuatku kembali gemetar pelan.

“Detak jantungmu juga cepat sekali.”

Tangan satunya lagi kini beralih menangkup dada kiriku.

Buah dadaku yang lembut berdegup dengan sangat kencang di bawah telapak tangannya.

“Hmm….”

Aku tak bisa menahan diri, erangan tertahan pun lolos dari mulutku.

Dia meremasnya dengan tekanan yang pas dari balik baju tariku.

Ujung jarinya bahkan dengan nakal menyentuh pelan ujung buah dadaku.

“Ahh!”

Aku merasa seluruh tubuhku seperti akan meledak saat itu juga.

Seketika, bagian itu menegang dan mengeras, memperlihatkan siluet bentuknya dengan jelas di balik baju.

Rasa malu yang luar biasa langsung menenggelamkanku.

“Bu, sepertinya… bagian sini sangat sensitif.”

Dia menundukkan kepala, napasnya yang memburu menyapu tulang selangkanganku.

“Biar… kuperiksa.”

Sambil berbicara, tangannya langsung menyusup masuk dari balik kerah baju tariku.

Saat ujung jarinya yang agak kapalan pertama kali menyentuh kulit dadaku yang paling lembut, aku merasa jiwaku seolah melayang keluar dari tubuhku

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 13

    Mulai dari rasa sakit dan penolakan di awal, diriku perlahan mulai larut dan menyambutnya. Hingga akhirnya, aku benar-benar tersesat dalam kenikmatan dahsyat yang dia berikan.Kami melakukannya mulai dari ranjang, berpindah ke kamar mandi, hingga ke sofa ruang tamu.Seluruh ruangan dipenuhi oleh suara benturan tubuh kami, serta desahan manisku yang keluar begitu saja tanpa bisa ditahan.Aku tak tahu sudah berapa kali kami melakukannya. Aku hanya tahu, saat sinar matahari keesokan harinya menerangi melalui gorden, sekujur tubuhku terasa remuk. Bahkan untuk menggerakkan satu jari saja sudah tak bertenaga.Sementara itu, Jack malah masih tampak sangat segar.Dia duduk di tepi ranjang dengan telanjang dada, menyelipkan sebatang rokok di jarinya, lalu menghembuskan asapnya dengan santai.Cahaya matahari menyinari kulit sawo matangnya, mempertegas setiap lekuk ototnya yang proposional, terlihat sangat sexy.Aku menatapnya dengan perasaan yang sulit diartikan.Jadi, apa hubungan di antara kam

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 12

    “Jadi, bagaimana pertimbanganmu?” Dia mendekatiku, napasnya yang panas menyembur ke wajahku.Aku bisa mencium aroma alkohol tipis dari tubuhnya.Dia habis minum alkohol.“Aku….”“Nggak perlu dijawab,” potongnya sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirku.“Berikan jawabanmu dengan tubuhmu saja.”Usai bicara, dia langsung menundukkan kepala dan kembali mencium bibirku dengan kasar.Ciuman kali ini terasa jauh lebih intens dan liar dibanding sebelumnya.Terbakar oleh pengaruh alkohol dan gairah yang telah tertahan selama tiga hari.Aku dibuat tak berdaya oleh ciumannya dan menyerah begitu saja.Dia menggendong tubuhku, lalu melangkah lebar menuju kamar tidurku.Kamarku sangat kecil, hanya ada sebuah ranjang dan lemari pakaian.Dia merebahkanku ke ranjang dan sosok tubuh tingginya langsung menindihku di atas.“Helen….”Dia membisikkan namaku berulang kali dengan suara yang sangat serak.Dia merobek pakaianku dengan liar, seperti seekor binatang buas yang sudah kelaparan lama.Dalam sek

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 11

    Aku bahkan mulai menggunakan jariku untuk mencari kepuasan.Namun, apapun yang kulakukan, tetap tak bisa mengisi rasa hampa itu.Hanya ada satu pikiran di dalam otakku.Aku menginginkannya.Menginginkan pria bernama Jack.Aku merasa takut dengan pikiranku sendiri.Bagaimana bisa aku menjadi begitu tak tahu malu seperti ini?Akal sehatku terus mengingatkan bahwa ini salah.Ini adalah sebuah transaksi, menjual tubuh dan rahimku sendiri.Begitu menyetujuinya, hidupku akan hancur.Aku hanya akan menjadi wanita simpanan dan alat pembuat anak bagi seorang pria kaya.Namun, sisi lain dari diriku terus berbisik menggodaku.Tapi itu total uang 100 miliar, lho!Dengan uang sebanyak itu, aku bisa memberikan kehidupan terbaik untuk ayah dan ibuku! Aku bisa keliling dunia! Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan!Aku tak perlu lagi melihat raut wajah orang demi gaji bulanan yang tak seberapa itu.Apalagi….Aku juga bisa mendapatkan Jack.Meskipun hanya untuk sementara, setidaknya aku bisa melakuk

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 10

    “Bisa dibilang begitu.” Lastri mengangguk, melanjutkan, “Tapi kami nggak mencari melalui agen. Kami nggak bisa memercayai gen dan latar belakang wanita-wanita di sana."“Sementara kamu, Bu Helen adalah kandidat yang paling cocok.”“Aku?”“Iya.” Lastri menatapku, sorot matanya membawa sebuah keyakinan yang tak menerima penolakan, “Kamu masih muda, cantik, sehat, lulusan universitas ternama dan berasal dari keluarga baik-baik. Yang terpenting adalah…."Dia terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti.“Jack menyukaimu.”Dua kata itu diucapkan dengan penekanan yang sangat jelas.Jantungku berdegup kencang.“Asalkan kamu setuju untuk melahirkan anak untuk Jack, setelah semuanya selesai, vila di daerah Sukajadi senilai 60 miliar akan menjadi milikmu. Selain itu, aku akan memberikan uang tunai sebesar 40 miliar lagi.”Dia mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya, lalu menyodorkannya ke hadapanku.“Ini sertifikat kepemilikan vila dan surat perjanjiannya, kamu bi

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 9

    Dia datang ke sini untuk melabrakku?Begitu memikirkan itu, aku ketakutan hingga kakiku melemas.“Bu… Bu Lastri, ada… ada apa kamu mencariku?” tanyaku terbata-bata.Rekan kerja dan para orang tua murid di sekitar kami mulai melemparkan tatapan penasaran ke arah kami.“Nggak nyaman bicara di sini.” Lastri melirik ke sekelilingnya, lalu dengan datar berkata, “Setelah kelasmu selesai, aku menunggumu di kafe seberang.”Usai bicara, dia berbalik dengan anggun dan pergi dengan sepatu hak tingginya.Aku membeku di tempat, merasa seluruh tenaga di tubuhku telah terkuras habis.Di sisa setengah jam kelas berikutnya, aku benar-benar tak fokus mengajar.Otakku terus-menerus memikirkan skenario terburuk. Aku harus bagaimana kalau dia memukul dan memakiku? Haruskah aku berlutut dan memohon ampun padanya?Setelah bersusah payah bertahan sampai kelas selesai, dengan perasaan campur aduk seperti seorang pidana yang berjalan menuju tempat eksekusi, aku melangkah masuk ke kafe tersebut.Lastri sudah dud

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 8

    Jack juga segera menenangkan dirinya. Dia memunggungiku, menaikkan ritsletingnya dengan santai, lalu merapikan pakaiannya kembali.Begitu dia membalikkan badan, penampilannya sudah kembali rapi dan berwibawa, seolah-olah pria bajingan yang baru saja menekanku ke cermin dan mempermainkanku sesuka hati tadi bukanlah dirinya.“Maaf,” ucapnya sambil menatapku, tanpa ada nada penyesalan sedikitpun dalam suaranya. “Sepertinya kelas kita hanya bisa sampai di sini.”Aku menggigit bibir sambil menunduk, tak berani menatapnya.Takut begitu melihatnya, aku akan langsung teringat kembali bayangan-bayangan memalukan tadi.“Pak Jack, kalau sudah nggak ada urusan, aku pamit pulang dulu.”Aku langsung mengambil tas, hanya ingin segera kabur dari tempat yang membuatku sesak napas ini.“Biar kuantar,” katanya.“Nggak perlu!” tolakku hampir berteriak.Bahkan sedetikpun, tak ingin kuhabiskan dengannya.Usai bicara, aku langsung berlari keluar dari studio tanpa menoleh ke belakang lagi.Begitu diterpa ang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status