مشاركة

Kontrak Rahasia Guru Tari
Kontrak Rahasia Guru Tari
مؤلف: Liam

Bab 1

مؤلف: Liam
Namaku Helen, aku adalah seorang guru balet di sebuah studio tari kelas atas.

Di mata orang lain, aku tampak begitu polos, seperti bunga yang masih diselimuti embun pagi. Pinggang ramping, leher jenjang bagaikan angsa, ditambah lagi dengan wajah polos yang tampak belum ternodai dunia, persis seperti sosok cinta pertama yang diidamkan oleh semua pria.

Namun, mereka tak tahu di balik penampilan yang tampak polos ini, tubuhku menyimpan sebuah rahasia yang bahkan membuat diriku sendiri merasa malu.

Aku sangat sensitif.

Sentuhan biasa saja bisa terasa seperti percikan api yang langsung membakar habis seluruh tubuhku.

Karena itulah, aku tak pernah berani berpacaran selama dua puluh empat tahun ini. Aku sangat takut rahasia ini terbongkar dan orang-orang akan menganggapku siluman yang tak tahu malu.

Kupikir selama diriku berhati-hati, aku bisa menjaga rahasia ini selamanya dan menjalani hidup dengan tenang.

Hingga akhirnya, pria bernama Jack itu muncul.

Dia adalah murid baru di kelas balet dewasa yang kuajar. Usianya sekitar empat puluh tahun, tapi bentuk tubuhnya sangat terjaga. Bahunya bidang, pinggangnya tegap dan lekukan ototnya yang padat bahkan masih terlihat jelas di balik baju olahraga yang longgar.

Berbeda dengan kebanyakan pria paruh baya yang mulai membuncit. Tak ada sedikitpun kesan itu pada dirinya. Sebaliknya, dia memancarkan pesona khas pria dewasa. Sorot matanya yang dalam bagaikan sumur tua, seakan mampu menghisap jiwa siapapun.

Di hari pertama kelas dimulai, dia langsung menjadi pusat perhatian semua murid perempuan.

Sialnya, dia sangat kaku. Bahkan untuk posisi berdiri yang sederhana saja tak bisa dilakukan dengan benar.

“Pak Jack, kencangkan ototmu, bokongnya jangan terlalu dicondongkan ke belakang.”

Aku berjalan ke belakangnya, lalu menjulurkan jari telunjuk untuk menepuk pelan pinggang sampingnya.

Namun, begitu ujung jariku menyentuhnya, sebuah kehangatan yang mengejutkan langsung menjalar dari balik pakaian tipisnya, langsung membuat ujung jariku mati rasa sangking panasnya.

Aku reflek ingin menarik kembali tanganku, tapi dia malah kehilangan keseimbangan dan tubuh tingginya tiba-tiba bersandar ke belakang dengan kuat.

Seluruh tubuhku pun terkurung rapat dalam pelukannya.

Punggungnya terasa seperti dinding yang membara, menempel erat pada bagian paling lembut di dadaku, hingga membuat bagian yang montok itu tertekan dan agak berubah bentuk.

Yang lebih parahnya lagi, tepat di belakangku adalah besi pegangan studio tari. Aku benar-benar tak bisa mundur lagi.

“Maaf, aku kehilangan keseimbangan tadi, bu.”

Suaranya yang berat dan penuh penyesalan terdengar di atas kepalaku.

Namun, lengan yang mendekapku tak menunjukkan tanda-tanda akan melepaskannya.

Aku benar-benar terkunci dalam pelukannya. Aroma yang maskulin dan segar, bercampur dengan sedikit wangi tembakau, langsung memenuhi hidungku, terasa begitu kuat dan mendominasi.

Seketika, wajahku langsung memerah dan jantungku berdebar kencang bagaikan genderang.

“Nggak… nggak apa-apa, silakan berdiri tegak dulu,” ujarku dengan suara gemetar, berusaha sekuat tenaga untuk mendorongnya.

Namun, tenagaku di hadapannya tak lebih dari sekedar semut yang mencoba menumbangkan pohon.

Bukannya melepaskan, dia malah memelukku semakin erat.

Aku bisa merasakan tubuhku menjadi sangat panas. Rasa gerah yang familiar, yang sekaligus membuatku takut dan juga mendambakannya mulai menjalar dari bagian bawah perutku.

Jangan… jangan di sini….

Masih ada banyak murid lain yang melihat di sekitar.

Aku panik setengah mati hingga rasanya ingin menangis.

Akhirnya, aku hanya bisa memohon dengan suara sekecil dengungan nyamuk, “Pak Jack, tolong… lepaskan aku.”

Dia tampaknya baru menyadari tindakannya yang kelewat batas, lalu perlahan melonggarkan pelukannya.

Seolah baru saja lolos dari maut, aku bergegas keluar dari pelukannya dengan kepala tertunduk, tak berani menatap matanya.

Meski begitu, aku bisa merasakan sebuah tatapan membara sedang menjelajahi tubuhku seperti lampu sorot.

Terutama saat tatapan itu jatuh pada dada dan bokongku, pandangannya seolah memiliki suhu yang sanggup membakar habis pakaian yang kukenakan.

Aku begitu malu hingga jari-jari kakiku reflek merapat kaku.

Di sisa setengah jam kelas berikutnya, aku sengaja menghindarinya dan tak berani mendekatinya lagi.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 13

    Mulai dari rasa sakit dan penolakan di awal, diriku perlahan mulai larut dan menyambutnya. Hingga akhirnya, aku benar-benar tersesat dalam kenikmatan dahsyat yang dia berikan.Kami melakukannya mulai dari ranjang, berpindah ke kamar mandi, hingga ke sofa ruang tamu.Seluruh ruangan dipenuhi oleh suara benturan tubuh kami, serta desahan manisku yang keluar begitu saja tanpa bisa ditahan.Aku tak tahu sudah berapa kali kami melakukannya. Aku hanya tahu, saat sinar matahari keesokan harinya menerangi melalui gorden, sekujur tubuhku terasa remuk. Bahkan untuk menggerakkan satu jari saja sudah tak bertenaga.Sementara itu, Jack malah masih tampak sangat segar.Dia duduk di tepi ranjang dengan telanjang dada, menyelipkan sebatang rokok di jarinya, lalu menghembuskan asapnya dengan santai.Cahaya matahari menyinari kulit sawo matangnya, mempertegas setiap lekuk ototnya yang proposional, terlihat sangat sexy.Aku menatapnya dengan perasaan yang sulit diartikan.Jadi, apa hubungan di antara kam

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 12

    “Jadi, bagaimana pertimbanganmu?” Dia mendekatiku, napasnya yang panas menyembur ke wajahku.Aku bisa mencium aroma alkohol tipis dari tubuhnya.Dia habis minum alkohol.“Aku….”“Nggak perlu dijawab,” potongnya sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirku.“Berikan jawabanmu dengan tubuhmu saja.”Usai bicara, dia langsung menundukkan kepala dan kembali mencium bibirku dengan kasar.Ciuman kali ini terasa jauh lebih intens dan liar dibanding sebelumnya.Terbakar oleh pengaruh alkohol dan gairah yang telah tertahan selama tiga hari.Aku dibuat tak berdaya oleh ciumannya dan menyerah begitu saja.Dia menggendong tubuhku, lalu melangkah lebar menuju kamar tidurku.Kamarku sangat kecil, hanya ada sebuah ranjang dan lemari pakaian.Dia merebahkanku ke ranjang dan sosok tubuh tingginya langsung menindihku di atas.“Helen….”Dia membisikkan namaku berulang kali dengan suara yang sangat serak.Dia merobek pakaianku dengan liar, seperti seekor binatang buas yang sudah kelaparan lama.Dalam sek

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 11

    Aku bahkan mulai menggunakan jariku untuk mencari kepuasan.Namun, apapun yang kulakukan, tetap tak bisa mengisi rasa hampa itu.Hanya ada satu pikiran di dalam otakku.Aku menginginkannya.Menginginkan pria bernama Jack.Aku merasa takut dengan pikiranku sendiri.Bagaimana bisa aku menjadi begitu tak tahu malu seperti ini?Akal sehatku terus mengingatkan bahwa ini salah.Ini adalah sebuah transaksi, menjual tubuh dan rahimku sendiri.Begitu menyetujuinya, hidupku akan hancur.Aku hanya akan menjadi wanita simpanan dan alat pembuat anak bagi seorang pria kaya.Namun, sisi lain dari diriku terus berbisik menggodaku.Tapi itu total uang 100 miliar, lho!Dengan uang sebanyak itu, aku bisa memberikan kehidupan terbaik untuk ayah dan ibuku! Aku bisa keliling dunia! Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan!Aku tak perlu lagi melihat raut wajah orang demi gaji bulanan yang tak seberapa itu.Apalagi….Aku juga bisa mendapatkan Jack.Meskipun hanya untuk sementara, setidaknya aku bisa melakuk

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 10

    “Bisa dibilang begitu.” Lastri mengangguk, melanjutkan, “Tapi kami nggak mencari melalui agen. Kami nggak bisa memercayai gen dan latar belakang wanita-wanita di sana."“Sementara kamu, Bu Helen adalah kandidat yang paling cocok.”“Aku?”“Iya.” Lastri menatapku, sorot matanya membawa sebuah keyakinan yang tak menerima penolakan, “Kamu masih muda, cantik, sehat, lulusan universitas ternama dan berasal dari keluarga baik-baik. Yang terpenting adalah…."Dia terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti.“Jack menyukaimu.”Dua kata itu diucapkan dengan penekanan yang sangat jelas.Jantungku berdegup kencang.“Asalkan kamu setuju untuk melahirkan anak untuk Jack, setelah semuanya selesai, vila di daerah Sukajadi senilai 60 miliar akan menjadi milikmu. Selain itu, aku akan memberikan uang tunai sebesar 40 miliar lagi.”Dia mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya, lalu menyodorkannya ke hadapanku.“Ini sertifikat kepemilikan vila dan surat perjanjiannya, kamu bi

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 9

    Dia datang ke sini untuk melabrakku?Begitu memikirkan itu, aku ketakutan hingga kakiku melemas.“Bu… Bu Lastri, ada… ada apa kamu mencariku?” tanyaku terbata-bata.Rekan kerja dan para orang tua murid di sekitar kami mulai melemparkan tatapan penasaran ke arah kami.“Nggak nyaman bicara di sini.” Lastri melirik ke sekelilingnya, lalu dengan datar berkata, “Setelah kelasmu selesai, aku menunggumu di kafe seberang.”Usai bicara, dia berbalik dengan anggun dan pergi dengan sepatu hak tingginya.Aku membeku di tempat, merasa seluruh tenaga di tubuhku telah terkuras habis.Di sisa setengah jam kelas berikutnya, aku benar-benar tak fokus mengajar.Otakku terus-menerus memikirkan skenario terburuk. Aku harus bagaimana kalau dia memukul dan memakiku? Haruskah aku berlutut dan memohon ampun padanya?Setelah bersusah payah bertahan sampai kelas selesai, dengan perasaan campur aduk seperti seorang pidana yang berjalan menuju tempat eksekusi, aku melangkah masuk ke kafe tersebut.Lastri sudah dud

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 8

    Jack juga segera menenangkan dirinya. Dia memunggungiku, menaikkan ritsletingnya dengan santai, lalu merapikan pakaiannya kembali.Begitu dia membalikkan badan, penampilannya sudah kembali rapi dan berwibawa, seolah-olah pria bajingan yang baru saja menekanku ke cermin dan mempermainkanku sesuka hati tadi bukanlah dirinya.“Maaf,” ucapnya sambil menatapku, tanpa ada nada penyesalan sedikitpun dalam suaranya. “Sepertinya kelas kita hanya bisa sampai di sini.”Aku menggigit bibir sambil menunduk, tak berani menatapnya.Takut begitu melihatnya, aku akan langsung teringat kembali bayangan-bayangan memalukan tadi.“Pak Jack, kalau sudah nggak ada urusan, aku pamit pulang dulu.”Aku langsung mengambil tas, hanya ingin segera kabur dari tempat yang membuatku sesak napas ini.“Biar kuantar,” katanya.“Nggak perlu!” tolakku hampir berteriak.Bahkan sedetikpun, tak ingin kuhabiskan dengannya.Usai bicara, aku langsung berlari keluar dari studio tanpa menoleh ke belakang lagi.Begitu diterpa ang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status